SEJARAH NABI YUSUF
نَحۡنُ
نَقُصُّ عَلَيۡكَ أَحۡسَنَ ٱلۡقَصَصِ بِمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ هَٰذَا
ٱلۡقُرۡءَانَ وَإِن كُنتَ مِن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ إِذۡ قَالَ يُوسُفُ
لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّي رَأَيۡتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبٗا وَٱلشَّمۡسَ
وَٱلۡقَمَرَ رَأَيۡتُهُمۡ لِي سَٰجِدِينَ قَالَ يَٰبُنَيَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡيَاكَ
عَلَىٰٓ إِخۡوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيۡدًاۖ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لِلۡإِنسَٰنِ
عَدُوّٞ مُّبِينٞ وَكَذَٰلِكَ يَجۡتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأۡوِيلِ
ٱلۡأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ وَعَلَىٰٓ ءَالِ يَعۡقُوبَ كَمَآ
أَتَمَّهَا عَلَىٰٓ أَبَوَيۡكَ مِن قَبۡلُ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَۚ إِنَّ
رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ۞لَّقَدۡ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخۡوَتِهِۦٓ ءَايَٰتٞ
لِّلسَّآئِلِينَ إِذۡ قَالُواْ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا
مِنَّا وَنَحۡنُ عُصۡبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ [ يوسف:3-8]
3.
Pada ayat ini, Allah mengkhususkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad saw
dan tentu saja untuk diperhatikan oleh orang Arab dan umat manusia seluruhnya.
Para mufasir mengatakan bahwa surah Yusuf ini adalah salah satu surah dalam
Al-Quran yang diturunkan untuk menghibur dan menggembirakan hati Nabi Muhammad
saw di kala beliau menderita tekanan-tekanan yang berat dari kaum Quraisy
berupa cemoohan, hinaan, pembangkangan, dan tindakan kekerasan sehingga beliau
terpaksa hijrah bersama Abu Bakar ke Medinah. Memang demikianlah halnya karena
kisah Nabi Yusuf ini adalah suatu kisah yang menarik sekali, dikisahkan dengan
cara terperinci, tiap babak mengandung hikmah yang dalam dan pelajaran yang
besar manfaatnya bagi orang yang memperhatikannya, apalagi bila dilihat dari
segi keindahan susunan bahasa dan isi ceritanya yang belum dikenal seluruhnya
baik oleh Nabi Muhammad saw sendiri maupun oleh kaum Quraisy dan orang Arab
pada umumnya.
Kisah ini selain menceritakan keadaan Nabi Yakub
a.s. beserta anak-anaknya yang masih hidup dengan cara kehidupan orang-orang
Badui, menceritakan pula bagaimana kehidupan dalam masyarakat yang telah maju
dan berkebudayaan tinggi, bagaimana kehidupan para penguasa yang penuh dengan
kemewahan serta kesenangan dan bagaimana pula cara mereka mengendalikan
pemerintahan dan mengatur perekonomian negara. Benarlah firman Allah yang
mengatakan bahwa kisah Nabi Yusuf a.s. yang akan dikisahkan berikut ini adalah
kisah yang paling baik, menarik, dan yang paling indah penggambarannya.
[Yusuf:3]
4. Pada
suatu ketika Nabi Yusuf a.s. memberitahukan kepada ayahnya Nabi Yakub bin Ishak
bin Ibrahim bahwa ia bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan,
semuanya tunduk dan sujud kepadanya. Tentu saja sujud di sini bukan dengan arti
menyembah seperti yang kita kenal, tetapi hanyalah sujud dalam arti kiasan
yaitu tunduk dan patuh. Sujud dengan arti tunduk dan patuh itu ada juga
terdapat dalam Al-Quran, seperti firman Allah:
Dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk
(kepada-Nya). (ar-Rahman/55: 6)
Setelah mendengar cerita itu, Nabi Yakub a.s.
menyadari bahwa mimpi anaknya bukan mimpi biasa, tetapi merupakan ilham dari
Allah sebagaimana kerapkali dialami oleh para nabi. Ia yakin bahwa anaknya ini
akan menghadapi urusan yang sangat penting dan setelah dewasa menjadi pemimpin
dimana masyarakat akan tunduk kepadanya tidak terkecuali saudara-saudaranya dan
ibu-bapaknya. Ia merasa khawatir kalau hal ini diketahui oleh
saudara-saudaranya, dan tentulah mereka akan merasa iri dan dengki terhadapnya
serta berusaha untuk menyingkirkan atau membinasa-kannya apalagi mereka telah
merasa bahwa ayah mereka lebih banyak menumpahkan kasih sayangnya kepadanya.
Tergambarlah dalam khayal Nabi Yakub bagaimana nasib anaknya bila mimpi itu
diketahui oleh saudara-saudaranya, tentulah mereka dengan segala usaha dan tipu
daya akan mencelakakannya.
[Yusuf:4]
5. Oleh
sebab itu, Nabi Yakub a.s. berkata kepada anaknya, "Hai anakku, jangan
sekali-kali engkau beritahukan apa yang engkau lihat dalam mimpi itu, karena
kalau mereka sampai mengetahuinya, mereka akan mengerti tabir mimpi itu dan
mereka akan iri dan dengki terhadapmu. Aku melihat bahwa mimpi itu bukan
sembarang mimpi. Mimpimu itu adalah sebagai ilham dari Allah bahwa engkau di
belakang hari akan menjadi orang besar serta berpengaruh, dan manusia akan
tunduk patuh kepadamu termasuk saudara-saudaramu dan aku serta ibumu. Aku tidak
dapat menjamin bahwa saudara-saudaramu tidak akan melakukan tindakan-tindakan
buruk terhadapmu."
Nasihat ayahnya itu disadari sepenuhnya oleh
Yusuf dan selalu diingat dan dikenangnya sehingga nanti pada akhir kisah ketika
ia telah dapat bertemu dengan seluruh keluarganya, ia tetap mengatakan
bahwasanya setanlah yang memperdaya saudara-saudaranya sehingga terputus
hubungan antara dia dengan keluarganya, sebagaimana tersebut dalam firman
Allah:
Dan dia (Yusuf) berkata, "Wahai ayahku!
Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah
menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku,
ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun,
setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh,
Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha
Mengetahui, Mahabijaksana." (Yusuf/12: 100)
[Yusuf:5]
6.
Selanjutnya ayahnya berkata, "Demikianlah Tuhan akan memilihmu
untuk menjadi nabi dan mengangkat derajatmu menjadi penguasa serta
menganugerahkan kepadamu berbagai macam nikmat dan kemuliaan. Dia akan memberikan
kepadamu ilmu dengan mengilhamkannya kepadamu. Dengan ilmu itu kamu dapat
mentabirkan mimpi dan mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh
manusia biasa." Hal ini terbukti di waktu Yusuf dalam penjara, dapat
mentabirkan mimpi raja Mesir sehingga ia menjadi orang yang disegani dan diangkat
menjadi penguasa tertinggi. Selain itu dapat mengetahui makanan apa yang akan
dibawa oleh pegawai penjara sebelum makanan itu sampai ke kamar temannya
seperti tersebut dalam firman Allah dalam surah ini juga.
Dia (Yusuf) berkata, "Makanan apa pun yang
akan diberikan kepadamu berdua aku telah dapat menerangkan takwilnya, sebelum
(makanan) itu sampai kepadamu. Itu sebagian dari yang diajarkan Tuhan
kepadaku." (Yusuf/12: 37)
Kemudian Yakub berkata lagi kepada Yusuf dalam
ayat ini, "Allah akan menyempurnakan nikmat dan karunia-Nya kepadamu dan
kepada keluarga Yakub termasuk ayahmu, saudaramu, dan keturunan mereka di
belakang hari. Adapun nikmat dan karunia-Nya kepadamu ialah seperti yang telah
diterangkan tadi, sedang nikmat dan karunia-Nya kepada ayah dan ibumu serta
saudara-saudaramu dan keturunan mereka ialah terlepasnya mereka dari berbagai
macam kesulitan serta marabahaya dan mendapat kehormatan serta kedudukan di
Mesir, kemudian di antara keturunan keluarga Yakub akan diangkat pula beberapa
orang nabi. Semua nikmat dan karunia itu telah diberikan Allah kepada kakekmu
Ibrahim serta Ishak. Kepada Ibrahim, Allah telah menjanjikan akan memilih di
antara keluarga dan keturunannya untuk menerima kenabian dan kitab suci."
Lanjut Yakub lagi, "Demikianlah tabir mimpi
itu dan bergembiralah dengan rahmat dan karunia Allah yang akan dianugerahkan
kepadamu, tetapi engkau harus tabah dan sabar menghadapi segala ujiannya dan
penuh tawakkal serta rela atas segala yang ditimpakan-Nya kepadamu, karena Dia
Mahabijaksana dan Maha Mengetahui segala apa yang ditetapkan-Nya."
[Yusuf:6]
7. Allah
memperingatkan lebih dahulu bahwa pada kisah Nabi Yusuf a.s. ini terdapat
teladan yang baik dan pelajaran bagi orang yang memperhatikannya yaitu betapa
besar kekuasaan Allah swt, dan betapa luas hikmah dan kebijaksanaan-Nya dalam
mengatur sesuatu dalam suatu rentetan kejadian yang akhirnya sampai kepada
tujuan yang dimaksud yaitu pemberian rahmat dan karunia kepada orang yang
dikasihi-Nya. Sesudah itu barulah Allah mengisahkan bagaimana sikap
saudara-saudara Yusuf terhadapnya. [Yusuf:7]
8.
Saudara-saudara Yusuf berkata sesama mereka, "Sesungguhnya ayah
kita lebih banyak menyayangi Yusuf dan saudaranya Bunyamin dan lebih banyak
menumpahkan perhatiannya kepada keduanya, padahal kitalah yang lebih berhak
untuk disayangi dan diperhatikan, karena kita ini sudah menjadi orang dewasa
yang kuat dan dapat membelanya serta memenuhi segala kebutuhannya. Sikap ayah
kita itu bertentangan dengan keadilan dan persamaan hak antara anak-anak.
Mengapa ayah lebih mengutamakan dua orang anak yang lemah dan tak berdaya itu
dari pada kita yang kuat serta lebih sanggup berkhidmat dan berbakti
kepadanya?"
Sepintas lalu nampak dengan jelas kebenaran
ucapan saudara-saudara Yusuf itu, seakan-akan Nabi Yakub a.s. telah membuat
kekeliruan dengan tindakannya itu padahal dia seorang nabi yang selalu
dibimbing Allah dalam segala sikap dan tindakannya. Menurut riwayat memang
Yakub menumpah-kan perhatian yang besar terhadap Yusuf, karena ada firasat dan
tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Yusuf mempunyai keistimewaan pada sifat dan
pembawaannya. Keistimewaan ini tidak dimiliki oleh saudara-saudaranya yang
lain. Maka Yakub sangat menaruh harapan kepadanya, apalagi setelah ia mendengar
Yusuf menceritakan mimpinya. Jika Yakub lebih cinta kepada Yusuf dan lebih
banyak memperhatikannya, maka hal itu adalah wajar, sebab Yusuf dan Bunyamin
masih kecil-kecil dan lebih banyak membutuhkan perhatian dan bimbingan orang
tuanya dibanding saudara-saudaranya yang sudah besar. Hanya sifat iri dan
dengki sajalah yang mendorong saudara-saudaranya untuk melakukan tindakan
permusuhan terhadapnya, bukanlah karena ayah mereka sudah menyimpang dari jalan
keadilan.
[Yusuf:8]
0 Komentar