Semoga kita semua mendapat kebaikan selalu, segala sesuatu yg bermanfaat serta baik, utk dilaksanakan dgn kesadaran, Allah swt senantiasa memberikan yg terbaik bagi kita semua firman Allah swt:
Semoga kita semua selalu di beri rahmat serta hidayah oleh Allah swt, yang Maha segala-Nya, sentuhan kepada makhluk-Nya dengan kasih sayangnya .........................................
Al-Qur'an adalah mu'jizat yang Agung diwahyukan kepada Nabi akhir zaman,yang bisa menolong seluruh ummat manusia di hari akhir,,,,,,,
maka dengan kekuasaan Allah swt surat Addhuha mempunyai keistimewaan yang amat besar,bagi orang yang membiasakan atau mengistiqamahkan membacanya.
mudahan kita semua terdorong utk mengamalkannya.Amiin ya rabbal alamiin
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ
ٱلرَّحِيمِ
وَٱلضُّحَىٰ وَٱلَّيۡلِ إِذَا سَجَىٰ
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ
وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فََٔاوَىٰ
وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ فَأَمَّا
ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ وَأَمَّا
بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ
1. Dalam ayat-ayat ini,
Allah bersumpah dengan dua macam tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu dhuha (waktu
matahari naik sepenggalah) bersama cahayanya dan malam beserta kegelapan dan
kesunyiannya, bahwa Dia tidak meninggalkan Rasul-Nya, Muhammad, dan tidak pula
memarahinya, sebagaimana orang-orang mengatakannya atau perasaan Rasulullah
sendiri.
2. Dalam
ayat-ayat ini, Allah bersumpah dengan dua macam tanda-tanda kebesaran-Nya,
yaitu dhuha (waktu matahari naik sepenggalah) bersama cahayanya dan malam
beserta kegelapan dan kesunyiannya, bahwa Dia tidak meninggalkan Rasul-Nya,
Muhammad, dan tidak pula memarahinya, sebagaimana orang-orang mengatakannya
atau perasaan Rasulullah sendiri.
3. Dalam
ayat-ayat ini, Allah bersumpah dengan dua macam tanda-tanda kebesaran-Nya,
yaitu dhuha (waktu matahari naik sepenggalah) bersama cahayanya dan malam
beserta kegelapan dan kesunyiannya, bahwa Dia tidak meninggalkan Rasul-Nya,
Muhammad, dan tidak pula memarahinya, sebagaimana orang-orang mengatakannya atau
perasaan Rasulullah sendiri.
4. Dalam ayat
ini, Allah mengungkapkan sesuatu yang melapangkan dada Nabi saw dan
menenteramkan jiwanya, bahwa keadaan Nabi dalam kehidupannya di hari-hari
mendatang akan lebih baik dibandingkan dengan hari-hari yang telah lalu.
Kebesarannya akan bertambah dan namanya akan lebih dikenal. Allah akan selalu
membimbingnya untuk mencapai kemuliaan dan untuk menuju kepada kebesaran.
Seakan-akan Allah mengatakan kepada Rasul-Nya,
"Apakah engkau kira bahwa Aku akan meninggalkanmu? Bahkan kedudukanmu di
sisi-Ku sekarang lebih kukuh dan lebih dekat dari masa yang sudah-sudah."
Janji Allah kepada Nabi Muhammad terus terbukti
karena sejak itu nama Nabi saw semakin terkenal, kedudukannya semakin bertambah
kuat, sehingga mencapai tingkat yang tidak pernah dicapai oleh para rasul
sebelumnya. Allah telah menjadikan Nabi Muhammad sebagai rahmat, petunjuk, dan
cahaya untuk seluruh alam dan seluruh hamba-Nya. Allah menjadikan cinta kepada
Nabi Muhammad termasuk cinta kepada-Nya juga; mengikuti Nabi dan mematuhinya
adalah jalan untuk memperoleh nikmat-nikmat-Nya, serta menjadikan umat Nabi
sebagai saksi-saksi untuk manusia seluruhnya. Nabi saw sendiri telah menyiarkan
agama Allah sesuai dengan kehendak-Nya sehingga sampai ke pelosok-pelosok dunia.
Ini adalah suatu kebesaran yang tiada bandingnya,
suatu keunggulan yang tiada taranya, dan suatu kemuliaan yang tidak ada yang
dapat mengimbanginya. Semua itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepada
orang yang dikehendaki-Nya.
5. Dalam ayat
ini, Allah menyampaikan berita gembira kepada Nabi Muhammad, bahwa Dia akan
terus-menerus melimpahkan anugerah-Nya kepada beliau, sehingga beliau menjadi
senang dan bahagia. Di antara pemberian-Nya itu ialah turunnya wahyu
terus-menerus setelah itu sebagai petunjuk bagi Nabi saw dan umatnya untuk
mendapat kebahagiaan hidup di dunia dan hari akhirat. Dia akan memenangkan
agama yang dibawa Nabi Muhammad atas seluruh agama lainnya dan Dia akan
mengangkat kedudukannya di atas kedudukan manusia seluruhnya.
6. Dalam ayat
ini, Allah mengingatkan nikmat yang pernah diterima Nabi Muhammad dengan
mengatakan, "Bukankah engkau hai Muhammad seorang anak yatim, tidak
mempunyai ayah yang bertanggung jawab atas pendidikanmu, menanggulangi
kepentingan serta membimbingmu, tetapi Aku telah menjaga, melindungi, dan
membimbingmu serta menjauhkanmu dari dosa-dosa perilaku orang-orang Jahiliah
dan keburukan mereka, sehingga engkau memperoleh julukan Manusia
sempurna."
Nabi saw hidup dalam keadaan yatim karena ayahnya
meninggal dunia sedangkan ia masih dalam kandungan ibunya. Ketika lahir, Allah
memelihara Muhammad saw dengan cara menjadikan kakeknya, Abdul Muththalib,
mengasihi dan menyayanginya. Nabi Muhammad berada dalam asuhan dan bimbingannya
sampai Abdul Muththalib wafat, sedang umur Nabi ketika itu delapan tahun.
Dengan meninggalnya Abdul Muththalib, Nabi Muhammad menjadi tanggungan paman
beliau, Abu thalib, berdasarkan wasiat dari Abdul Muththalib. Abu thalib telah
mengerahkan semua perhatiannya untuk mengasuh Nabi saw, sehingga beliau
meningkat dewasa dan diangkat menjadi rasul. Setelah Muhammad diangkat menjadi
rasul, orang-orang Quraisy memusuhi dan menyakitinya, tetapi Abu thalib terus
membelanya dari semua ancaman orang musyrik hingga Abu thalib wafat.
Dengan wafatnya Abu thalib, bangsa Quraisy mendapat
peluang untuk menyakiti Nabi dengan perantaraan orang-orang jahat di kalangan
mereka yang menyebabkan beliau terpaksa hijrah.
Betapa hebatnya penggemblengan Allah dan asuhan-Nya
terhadap Nabi Muhammad. Biasanya keyatiman seorang anak menjadi sebab
kehancuran akhlaknya karena tidak ada pengasuh dan pembimbing yang bertanggung
jawab. Apalagi suasana dan sikap penduduk Mekah lebih dari cukup untuk
menyesatkan Nabi saw. akan tetapi, perlindungan Allah yang sangat rapi dapat
mencegah beliau menemani mereka. Dengan demikian, jadilah beliau seorang pemuda
yang sangat jujur, terpercaya, tidak pernah berdusta, dan tidak pernah berlumur
dengan dosa orang-orang Jahiliah.
7. Dalam ayat
ini, Allah mengungkapkan, bahwa Dia mendapatkan Nabi Muhammad dalam keadaan
tidak mengerti tentang syariat dan tidak mengetahui tentang Al-Qur'an. Kemudian
Allah memberikan petunjuk kepadanya.
Hal yang sangat membingungkan Nabi Muhammad adalah
apa yang dilihatnya di kalangan bangsa Arab sendiri tentang kerendahan akidah,
kelemahan pertimbangan disebabkan pengaruh dugaan-dugaan yang salah, kejelekan
amal perbuatan, dan keadaan mereka yang terpecah-belah dan suka bermusuhan.
Mereka menuju kepada kehancuran karena memakai orang-orang asing yang leluasa
bertindak di kalangan mereka yang terdiri dari bangsa Persi, Habsyi, dan
Romawi.
Jalan apakah yang harus ditempuh untuk membetulkan
akidah-akidah mereka, membebaskan mereka dari pengaruh adat istiadat yang buruk
itu, dan cara bagaimana yang harus dijalankan untuk membangunkan mereka dari
tidur yang nyenyak itu?
Umat-umat nabi lain pun tidak lebih baik keadaannya
daripada umatnya. Tetapi walaupun begitu, Allah tidak membiarkan Nabi Muhammad
menjalankan dakwah tanpa bantuan-Nya. Allah bahkan memberikan wahyu yang
menjelaskan kepadanya jalan yang harus ditempuh dalam usaha memperbaiki keadaan
kaumnya. Allah berfirman:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad)
ruh (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui
apakah Kitab (Al-Qur'an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur'an itu
cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara
hamba-hamba Kami. (asy-Syura/42: 52)
8. Dalam ayat
ini, Allah menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang miskin. Ayahnya tidak
meninggalkan pusaka baginya kecuali seekor unta betina dan seorang hamba sahaya
perempuan. Kemudian Allah memberinya harta benda berupa keuntungan yang amat
besar dari memperdagangkan harta Khadijah dan ditambah pula dengan harta yang
dihibahkan Khadijah kepadanya dalam perjuangan menegakkan agama Allah.
Dari keterangan-keterangan tersebut di atas,
sesungguhnya Allah mengatakan kepada Nabi Muhammad bahwa Dialah yang
memeliharanya dalam keadaan yatim, menghindarkannya dari kebingungan, dan
menjadikannya berkecukupan. Allah tidak akan meninggalkan Nabi Muhammad selama
hidupnya.
9. Sesudah
menyatakan dalam ayat-ayat terdahulu tentang bermacam-macam nikmat yang
diberikan kepada Nabi Muhammad, maka pada ayat ini, Allah meminta kepada
Nabi-Nya agar mensyukuri nikmat-nikmat tersebut, serta tidak menghina anak-anak
yatim dan memperkosa haknya.
Sebaliknya, Nabi Muhammad diminta mendidik mereka
dengan adab dan sopan-santun, serta menanamkan akhlak yang mulia dalam jiwa
mereka, sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang berguna, tidak menjadi
bibit kejahatan yang merusak orang-orang yang bergaul dengannya. Nabi Muhammad
bersabda:
Aku (kedudukanku) dan orang yang mengasuh anak yatim
di surga (sangat dekat), seperti dua ini (dua jari, yaitu telunjuk dan jari tengah).(Riwayat
at-Tirmidhi dari Sahl bin Sa'ad)
Barang siapa yang telah merasa kepahitan hidup dalam
serba kekurangan maka selayaknya ia dapat merasakan kepahitan itu pada orang
lain. Allah telah menghindarkan Nabi Muhammad dari kesengsaraan dan kehinaan,
maka selayaknya Nabi memuliakan semua anak yatim sebagai tanda mensyukuri
nikmat-nikmat yang dilimpahkan Allah kepadanya.
10. Dalam
ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar orang-orang yang
meminta sesuatu kepadanya jangan ditolak dengan kasar dan dibentak, malah
sebaliknya diberi sesuatu atau ditolak secara halus. Ada pendapat bahwa yang
dimaksud dengan kata as-sa'il adalah orang yang memohon petunjuk, maka
hendaknya pemohon ini dilayani dengan lemah lembut sambil memenuhi permohonannya.
11. Dalam
ayat ini, Allah menegaskan lagi kepada Nabi Muhammad agar memperbanyak
pemberiannya kepada orang-orang fakir dan miskin serta mensyukuri, menyebut,
dan mengingat nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya. Menyebut-nyebut
nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita bukanlah untuk
membangga-banggakan diri, tetapi untuk mensyukuri dan mengharapkan orang lain
mensyukuri pula nikmat yang telah diperolehnya. Dalam sebuah hadis, Nabi saw
mengatakan:
Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia
tidak mensyukuri Allah. (Riwayat Abu Dawud dan at-Tirmizi dari Abu Hurairah).
Kebiasaan orang-orang kikir sering menyembunyikan
harta kekayaannya untuk menjadi alasan tidak bersedekah, dan mereka selalu
memperdengarkan kekurangan. Sebaliknya, orang-orang dermawan senantiasa
menampakkan pemberian dan pengorbanan mereka dari harta kekayaan yang
dianugerahkan kepada mereka dengan menyatakan syukur dan terima kasih kepada
Allah atas limpahan karunia-Nya itu.