تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي
بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ
وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ
ٱلۡغَفُورُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ طِبَاقٗاۖ مَّا تَرَىٰ فِي خَلۡقِ
ٱلرَّحۡمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٖۖ فَٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ هَلۡ تَرَىٰ مِن فُطُورٖ ثُمَّ
ٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ كَرَّتَيۡنِ يَنقَلِبۡ إِلَيۡكَ ٱلۡبَصَرُ خَاسِئٗا وَهُوَ
حَسِيرٞ وَلَقَدۡ زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَٰبِيحَ وَجَعَلۡنَٰهَا
رُجُومٗا لِّلشَّيَٰطِينِۖ وَأَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ وَلِلَّذِينَ
كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ إِذَآ أُلۡقُواْ
فِيهَا سَمِعُواْ لَهَا شَهِيقٗا وَهِيَ تَفُورُ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ
ٱلۡغَيۡظِۖ كُلَّمَآ أُلۡقِيَ فِيهَا فَوۡجٞ سَأَلَهُمۡ خَزَنَتُهَآ أَلَمۡ
يَأۡتِكُمۡ نَذِيرٞ قَالُواْ بَلَىٰ قَدۡ جَآءَنَا نَذِيرٞ فَكَذَّبۡنَا
وَقُلۡنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ
كَبِيرٖ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ
ٱلسَّعِيرِ فَٱعۡتَرَفُواْ بِذَنۢبِهِمۡ فَسُحۡقٗا لِّأَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ إِنَّ
ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ وَأَسِرُّواْ
قَوۡلَكُمۡ أَوِ ٱجۡهَرُواْ بِهِۦٓۖ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ أَلَا
يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ
ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولٗا فَٱمۡشُواْ فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦۖ
وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ ءَأَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ أَن يَخۡسِفَ بِكُمُ
ٱلۡأَرۡضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ أَمۡ أَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ أَن يُرۡسِلَ
عَلَيۡكُمۡ حَاصِبٗاۖ فَسَتَعۡلَمُونَ كَيۡفَ نَذِيرِ وَلَقَدۡ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ
مِن قَبۡلِهِمۡ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيرِ أَوَ لَمۡ يَرَوۡاْ إِلَى ٱلطَّيۡرِ
فَوۡقَهُمۡ صَٰٓفَّٰتٖ وَيَقۡبِضۡنَۚ مَا يُمۡسِكُهُنَّ إِلَّا ٱلرَّحۡمَٰنُۚ
ٱلرَّحۡمَٰنُۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءِۢ بَصِيرٌ أَمَّنۡ هَٰذَا ٱلَّذِي هُوَ
جُندٞ لَّكُمۡ يَنصُرُكُم مِّن دُونِ ٱلرَّحۡمَٰنِۚ إِنِ ٱلۡكَٰفِرُونَ إِلَّا فِي
غُرُورٍ أَمَّنۡ هَٰذَا ٱلَّذِي يَرۡزُقُكُمۡ إِنۡ أَمۡسَكَ رِزۡقَهُۥۚ بَل
لَّجُّواْ فِي عُتُوّٖ وَنُفُورٍ أَفَمَن يَمۡشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجۡهِهِۦٓ
أَهۡدَىٰٓ أَمَّن يَمۡشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ قُلۡ هُوَ
ٱلَّذِيٓ أَنشَأَكُمۡ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفِۡٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ قُلۡ هُوَ
ٱلَّذِي ذَرَأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَإِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ
هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ
وَإِنَّمَآ أَنَا۠ نَذِيرٞ مُّبِينٞ فَلَمَّا رَأَوۡهُ زُلۡفَةٗ سِيَٓٔتۡ وُجُوهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَقِيلَ
هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تَدَّعُونَ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَهۡلَكَنِيَ
ٱللَّهُ وَمَن مَّعِيَ أَوۡ رَحِمَنَا فَمَن يُجِيرُ ٱلۡكَٰفِرِينَ مِنۡ عَذَابٍ
أَلِيمٖ قُلۡ هُوَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيۡهِ تَوَكَّلۡنَاۖ
فَسَتَعۡلَمُونَ مَنۡ هُوَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَصۡبَحَ
مَآؤُكُمۡ غَوۡرٗا فَمَن يَأۡتِيكُم بِمَآءٖ مَّعِينِۢ
1.
Ayat ini menerangkan bahwa Allah Yang Mahasuci dan yang tidak terhingga
rahmat-Nya, adalah penguasa semua kerajaan dunia yang fana ini dengan segala
macam isinya, dan kerajaan akhirat yang terjadi setelah lenyapnya kerajaan
dunia. Allah berfirman:
Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi
dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (al-Ma'idah/5: 17)
Firman Allah yang lain :
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. (al-Fatihah/1:
2-4)
Allah adalah penguasa kerajaan dunia. Hal ini
berarti bahwa Dialah yang menciptakan seluruh alam ini beserta segala yang
terdapat di dalamnya. Dia pulalah yang mengembangkan, menjaga kelangsungan
wujudnya, mengatur, mengurus, menguasai, dan menentukan segala sesuatu yang ada
di dalamnya, sesuai yang dikehendaki-Nya. Dalam mengatur, mengurus,
mengembangkan, dan menjaga kelangsungan wujud alam ini, Allah menetapkan
hukum-hukum dan peraturan-peraturan. Semua wajib tunduk dan mengikuti
hukum-hukum dan peraturan yang dibuat-Nya itu tanpa ada pengecualian sedikit
pun. Apa dan siapa saja yang tidak mau tunduk dan patuh, serta mengingkari
hukum-hukum dan peraturan-peraturan itu pasti akan binasa atau sengsara.
Hukum dan peraturan Allah yang berlaku di alam
ini ada dua; pertama, sunatullah yang merupakan hukum dan ketentuan Allah yang
berlaku di alam semesta ini, baik bagi makhluk hidup maupun benda mati, baik
bagi manusia maupun bagi hewan, tumbuh-tumbuhan, dan benda yang tidak bernyawa,
baik bagi bumi dengan segala isinya maupun bagi seluruh planet-planet yang
beredar di jagat raya yang tiada terbatas luasnya. Di antara hukum dan
peraturan Allah itu ialah api membakar, air mengalir dari tempat yang tinggi ke
tempat yang rendah, hukum Pascal, dan, hukum Archimedes. Manusia hidup
memerlukan oksigen, makan dan minum, baik berupa makanan dan minuman jasmani
maupun rohani. Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Tiap-tiap
planet, termasuk bumi, mempunyai daya tarik-menarik dan berjalan pada garis
edarnya yang telah ditentukan; dan banyak lagi hukum-hukum dan
peraturan-peraturan Allah, baik yang telah diketahui manusia maupun yang belum
diketahuinya.
Pelanggaran terhadap hukum dan peraturan Allah
berarti kesengsaraan dan kebinasaan bagi yang melanggarnya. Seperti memasukkan
tangan ke dalam api berakibat terbakarnya tangan tersebut, dan merusak alam
atau menebang hutan yang melampaui batas berakibat banjir dan kerugian bagi
manusia. Bahkan bintang-bintang dan meteor yang menyalahi hukum Allah akan
mengalami kehancuran.
Kedua, agama Allah, yang berisi
petunjuk-petunjuk bagi manusia. Dengan mengikuti petunjuk-petunjuk itu, manusia
akan hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Agama yang berisi petunjuk-petunjuk
itu diturunkan Allah kepada para rasul yang telah diutus-Nya, sejak dari Nabi
Adam sampai kepada Nabi Muhammad, sebagai nabi dan rasul Allah yang terakhir,
penutup dari segala rasul dan nabi. Manusia yang hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad,
sampai akhir zaman, wajib mengikuti agama yang dibawanya jika mereka ingin
hidup selamat, berbahagia di dunia dan di akhirat .
Demikianlah Allah yang menguasai, mengurus,
mengatur, dan menjaga kelangsungan wujud alam ini, menetapkan undang-undang dan
ketentuan-ketentuan, sehingga dengan demikian terlihat semuanya teratur rapi,
indah, dan bermanfaat bagi manusia. Apabila seorang warga negara wajib tunduk
dan patuh kepada semua hukum dan ketentuan yang berlaku di negaranya, tentu ia
harus lebih wajib lagi tunduk dan patuh kepada hukum dan peraturan Allah yang
menciptakan, memberi nikmat, dan menjaganya. Jika suatu negara menetapkan
sanksi bagi setiap warga negara yang melanggar hukum dan peraturan yang telah
ditetapkannya, maka Allah lebih menetapkan sanksi dan mengadili dengan
seadil-adilnya setiap makhluk yang mengingkari hukum dan peraturan yang telah
dibuat-Nya.
Di samping sebagai penguasa kerajaan dunia,
Allah juga menguasai kerajaan akhirat, yang ada setelah kehancuran seluruh
kerajaan dunia. Kerajaan akhirat merupakan kerajaan abadi; dimulai dari
terjadinya hari Kiamat, hari kehancuran dunia dan pembangkitan manusia dari
kubur. Kemudian mereka dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk diadili dan
ditimbang amal dan perbuatannya. Dari pengadilan itu diputuskan; bagi yang iman
dan amal salehnya lebih berat dibandingkan dengan kesalahan yang telah
diperbuatnya, maka ia diberi balasan dengan surga, tempat yang penuh kenikmatan
dan kebahagiaan. Sebaliknya jika perbuatan jahat yang telah dikerjakannya
selama hidup di dunia lebih berat dari iman dan amal saleh yang telah
dilakukannya, maka balasan yang mereka peroleh adalah neraka, tempat yang penuh
kesengsaraan yang tiada tara. Kehidupan di akhirat, baik di surga maupun di
neraka, adalah kehidupan yang kekal. Di surga Allah melimpahkan kenikmatan dan
kebahagiaan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, sedangkan di
neraka Allah menimpakan siksaan yang sangat berat kepada orang-orang kafir dan
berbuat jahat.
Allah berfirman:
Bukan demikian! Barang siapa berbuat keburukan,
dan dosanya telah menenggelamkannya, maka mereka itu penghuni neraka. Mereka
kekal di dalamnya, Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan,
mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya. (al-Baqarah/2: 81-82)
Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah
sebagai penguasa kerajaan dunia dan kerajaan akhirat, Mahakuasa atas segala
sesuatu. Tidak ada suatu apa pun yang dapat menandingi kekuasaan-Nya dan tidak
ada suatu apa pun yang dapat luput dari kekuasaan-Nya itu.
2. Dalam
ayat ini diterangkan bahwa Tuhan yang memegang kekuasaan kerajaan dunia dan
kerajaan akhirat serta menguasai segala sesuatunya itu, adalah Tuhan yang
menciptakan kematian dan kehidupan. Hanya Dia yang menentukan saat kematian
setiap makhluk. Jika saat kematian itu telah tiba, tidak ada suatu apa pun yang
dapat mempercepat atau memperlambatnya barang sekejap pun. Demikian pula
keadaan makhluk yang akan mati, tidak ada suatu apa pun yang dapat mengubahnya
dari yang telah ditentukan-Nya. Allah berfirman:
Dan Allah tidak akan menunda (kematian)
seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap
apa yang kamu kerjakan. (al-Munafiqun/63: 11)
Tidak seorang pun manusia atau makhluk hidup
lain yang dapat menghindarkan diri dari kematian yang telah ditetapkan Allah,
sebagaimana firman-Nya:
Dimanapun kamu berada, kematian akan
mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan
kukuh. (an-Nisa'/4: 78)
Demikian pula dinyatakan bahwa Allah yang
menciptakan kehidupan. Maksudnya ialah bahwa Dialah yang menghidupkan seluruh
makhluk hidup yang ada di alam ini. Dialah yang menyediakan segala kebutuhan
hidupnya dan Dia pula yang memberikan kemungkinan kelangsungan jenis makhluk
hidup itu, sehingga tidak terancam kepunahan. Kemudian Dia pula yang menetapkan
lama kehidupan suatu makhluk dan menetapkan keadaan kehidupan seluruh makhluk.
Dalam pada itu, Allah pun menentukan sampai kapan kelangsungan hidup suatu
makhluk, sehingga bila waktu yang ditentukan-Nya itu telah berakhir, musnahlah
jenis makhluk itu sebagaimana yang dialami oleh jenis-jenis hewan purba.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah
menciptakan kematian dan kehidupan adalah untuk menguji manusia, siapa di
antara mereka yang beriman dan beramal saleh dengan mengikuti petunjuk-petunjuk
yang dibawa Nabi Muhammad dan siapa pula yang mengingkarinya. Dari ayat di atas
dipahami bahwa dengan menciptakan kehidupan itu, Allah memberi kesempatan yang
sangat luas kepada manusia untuk memilih mana yang baik menurut dirinya. Apakah
ia akan mengikuti hawa nafsunya, atau ia akan mengikuti petunjuk, hukum, dan
ketentuan Allah sebagai penguasa alam semesta ini. Seandainya manusia ditimpa
azab yang pedih di akhirat nanti, maka azab itu pada hakikatnya ditimpakan atas
kehendak diri mereka sendiri. Begitu juga jika mereka memperoleh kebahagiaan,
maka kebahagiaan itu datang karena kehendak diri mereka sendiri sewaktu hidup
di dunia.
Berdasarkan ujian itu pula ditetapkan derajat
dan martabat seorang manusia di sisi Allah. Semakin kuat iman seseorang semakin
banyak amal saleh yang dikerjakannya. Semakin ia tunduk dan patuh mengikuti
hukum dan peraturan Allah, semakin tinggi pula derajat dan martabat yang
diperolehnya di sisi Allah. Sebaliknya jika manusia tidak beriman kepada-Nya,
tidak mengerjakan amal saleh dan tidak taat kepada-Nya, ia akan memperoleh
tempat yang paling hina di akhirat.
Kehidupan duniawi adalah untuk menguji manusia,
siapa di antara mereka yang selalu menggunakan akal dan pikirannya memahami
agama Allah, dan memilih mana perbuatan yang paling baik dikerjakannya,
sehingga perbuatannya itu diridai Allah. Juga untuk mengetahui siapa yang tabah
dan tahan mengekang diri dari mengerjakan larangan-larangan Allah dan siapa
pula yang paling taat kepada-Nya.
Ayat ini mendorong dan menganjurkan agar
manusia selalu waspada dalam hidupnya. Hendaklah mereka selalu memeriksa hati
mereka apakah ia benar-benar seorang yang beriman, dan juga memeriksa segala
yang akan mereka perbuat, apakah telah sesuai dengan yang diperintahkan Allah
atau tidak, dan apakah yang akan mereka perbuat itu larangan Allah atau bukan.
Jika perbuatan itu telah sesuai dengan perintah Allah, bahkan termasuk
perbuatan yang diridai-Nya, hendaklah segera mengerjakannya. Sebaliknya jika
perbuatan itu termasuk larangan Allah, maka jangan sekali-kali melaksanakannya.
Pada
akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia Mahaperkasa, tidak ada satu makhluk
pun yang dapat menghalangi kehendak-Nya jika Ia hendak melakukan sesuatu,
seperti hendak memberi pahala orang-orang yang beriman dan beramal saleh atau
hendak mengazab orang yang durhaka kepada-Nya. Dia Maha Pengampun kepada
hamba-hamba-Nya yang mau bertobat kepada-Nya dengan menyesali perbuatan dosa
yang telah dikerjakannya, berjanji tidak akan melakukan dosa itu lagi serta
berjanji pula tidak akan melakukan dosa-dosa yang lain.
Pada ayat ini, Allah menyebut secara
bergandengan dua macam di antara sifat-sifat-Nya, yaitu sifat Mahaperkasa dan
Maha Pengampun, seakan-akan kedua sifat ini adalah sifat yang berlawanan. Sifat
Mahaperkasa memberi pengertian memberi kabar yang menakut-nakuti, sedang sifat
Maha Pengampun memberi pengertian adanya harapan bagi setiap orang yang
mengerjakan perbuatan dosa, jika ia bertobat. Hal ini menunjukkan bahwa Allah
yang berhak disembah itu benar-benar dapat memaksakan kehendak-Nya kepada siapa
pun, tidak ada yang dapat menghalanginya. Dia mengetahui segala sesuatu,
sehingga dapat memberikan balasan yang tepat kepada setiap hamba-Nya, baik
berupa pahala maupun siksa. Dengan pengetahuan itu pula, Dia dapat membedakan
antara orang yang taat dan durhaka kepada-Nya, sehingga tidak ada kemungkinan
sedikit pun seorang yang durhaka memperoleh pahala atau seorang yang taat dan
patuh memperoleh siksa. Allah tidak pernah keliru dalam memberikan pembalasan.
Firman
Allah lainnya yang menyebut secara bergandengan kabar peringatan dan
pengharapan itu ialah:
Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah
Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang
sangat pedih. (al-hijr/15: 49-50)
3. Allah
menerangkan bahwa Dialah yang menciptakan seluruh langit secara bertingkat di
alam semesta. Tiap-tiap benda alam itu seakan-akan terapung kokoh di
tengah-tengah jagat raya, tanpa ada tiang-tiang yang menyangga dan tanpa ada
tali-temali yang mengikatnya. Tiap-tiap langit itu menempati ruangan yang telah
ditentukan baginya di tengah-tengah jagat raya dan masing-masing lapisan itu
terdiri atas begitu banyak planet yang tidak terhitung jumlahnya. Tiap-tiap
planet berjalan mengikuti garis edar yang telah ditentukan baginya. Allah
berfirman:
Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana
kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia
(bumi) tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan segala macam jenis
makhluk bergerak yang bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air hujan dari
langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.
(Luqman/31: 10)
Semua benda langit beserta bintang-bintang yang
terdapat di dalamnya tunduk dan patuh mengikuti ketentuan dan hukum yang
ditetapkan Allah baginya. Semuanya tetap seperti itu sampai pada waktu yang
ditentukan baginya. Allah berfirman:
Allah yang meninggikan langit tanpa tiang
(sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia
menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah
ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda
(kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu. (ar-Ra'd/13: 2)
Menurut ilmu Astronomi, di jagat raya yang
luasnya tiada terhingga itu, terdapat galaksi-galaksi atau gugusan-gugusan
bintang yang di dalamnya terdapat miliaran bintang yang tiada terhitung
jumlahnya. Bintang-bintang yang berada di dalam setiap galaksi itu ada yang kecil
seperti bumi dan ada pula yang besar seperti matahari, dan bahkan banyak yang
lebih besar lagi. Setiap galaksi mempunyai sistem yang teratur rapi, yang tidak
terlepas dari sistem ruang angkasa seluruhnya. Adanya daya tarik-menarik yang
terdapat pada setiap planet, menyebabkan planet-planet itu tidak jatuh dan
tidak berbenturan antara yang satu dengan yang lain, sehingga ia tetap terapung
dan beredar pada garis edarnya masing-masing di angkasa.
Bila dihubungkan pengertian ayat tersebut
dengan yang dijelaskan ilmu Astronomi, maka yang dimaksud dengan
tingkat-tingkat langit yang banyak itu ialah galaksi-galaksi. Sedang angka
tujuh dalam bahasa Arab biasa digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang
jumlahnya banyak. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan tingkat langit yang
tujuh itu adalah galaksi-galaksi yang banyak terdapat di langit. Sementara itu,
ada pula ahli tafsir yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan "tujuh
lapisan langit" ialah tujuh bintang yang berada di sekitar matahari, dan
ada pula ahli tafsir yang tidak mau menafsirkannya. Mereka menyerahkannya
kepada Allah karena hal itu ada pada pengetahuan-Nya yang belum diketahui
dengan pasti oleh manusia.
Demikianlah gambaran umum keadaan sistem
galaksi-galaksi. Mengenai keadaan setiap planet yang tidak terhitung banyaknya
itu, seperti bagaimana sifat dan tabiatnya, apa yang terkandung di dalamnya,
bagaimana bentuknya secara terperinci, dan sebagainya masih sangat sedikit yang
diketahui manusia. Hal itu pun hanya sekelumit kecil dari pengetahuan tentang galaksi
itu.
Seperti mengenai penciptaan "langit"
yang tujuh lapis terdapat pada beberapa ayat lainnya, seperti al-Baqarah/2: 29,
al-An'am/6: 125, Nuh/71: 15, dan an-Naba'/78: 12. Menurut para saintis, kata
langit dapat ditafsirkan sebagai langit bumi yang berupa atmosfer atau langit
alam semesta. Apabila langit bumi, ternyata bahwa atmosfer dibagi dalam tujuh
lapisan. Dan masing-masing lapisan mempunyai tugas dan fungsi melindungi bumi.
Pembagian atmosfer menjadi tujuh lapis
didasarkan pada perbedaan kandungan kimia dan suhu udara. Ketujuh lapisan
tersebut dinamakan: Troposfer, Stratosfer, lapisan-lapisan Mesosfer,
Thermosfer, Exosfer, Ionosfer, dan Magnetosfer. Dalam Surah Fussilat/41 ayat
11-12 dinyatakan bahwa tiap lapis langit mempunyai urusannya sendiri-sendiri.
Hal ini dikonfirmasi ilmu pengetahuan, misal ada lapisan yang bertugas untuk
membuat hujan, mencegah kerusakan akibat radiasi, memantulkan gelombang radio,
sampai dengan lapisan yang mencegah agar meteor tidak merusak bumi.
Akan tetapi, dengan adanya ayat 5 pada surah
yang sama (al-Mulk/67: 5), tampaknya yang dimaksudkan dengan langit bukanlah
langit atmosfer, melainkan langit semesta. Bunyi ayat tersebut demikian:
Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang
dekat, dengan bintang-bintang dan Kami jadikannya (bintang-bintang itu) sebagai
alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang
menyala-nyala. (al-Mulk/67: 5)
Dinyatakan secara jelas bahwa pada "langit
yang dekat" (mungkin dapat ditafsirkan sebagai lapis langit pertama)
dihiasi oleh bintang-bintang. Kata yang digunakan bukan bintang (bentuk tunggal
yang dapat menunjuk pada matahari sebagai bintang dalam tata surya), akan
tetapi bintang-bintang (bentuk jamak). Dengan demikian "langit yang
dekat" adalah seluruh galaksi yang kita ketahui saat ini.
Apabila demikian halnya, apa yang dinyatakan
dalam Al-Qur'an mengenai hal ini, sama sekali belum dapat dijangkau oleh temuan
ilmu pengetahuan. Berkaitan dengan itu, adalah suatu hal yang sangat sombong
jika seorang manusia mengakui tahu segala sesuatu. Betapa pun luasnya
pengetahuan seseorang, masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan
pengetahuan Allah. Apabila seseorang mengumpamakan dirinya sebagai bumi,
kemudian melihat dirinya terletak di antara planet-planet yang banyak itu,
tentu akan merasa bahwa dirinya sebenarnya tidak ada artinya jika dibandingkan
dengan makhluk Allah yang beraneka ragam bentuk dan coraknya yang tiada
terhitung jumlahnya.
Allah lalu memerintahkan manusia memandang dan
memperhatikan langit dan bumi beserta isinya, serta mempelajari sifat-sifatnya.
Misalnya, perhatikanlah matahari bersinar dan bulan bercahaya, sampai di mana
manfaat dan faedah sinar dan cahaya itu bagi kehidupan seluruh makhluk yang
ada. Perhatikanlah binatang ternak yang digembalakan di padang rumput,
tumbuh-tumbuhan yang menghijau, gunung-gunung yang tinggi kokoh menjulang yang
menyejukkan mata orang yang memandangnya; laut yang terhampar luas membiru;
langit dan segala isinya. Semuanya tumbuh, berkembang, tetap dalam kelangsungan
hidup dan wujudnya, serta berkesinambungan dan mempunyai sistem, hukum, dan
peraturan yang sangat rapi. Sistem itu tidak terlepas dari sistem hukum dan
peraturan yang lebih besar daripadanya yaitu yang berlaku pada seluruh alam
yang fana ini. Cobalah pikirkan dan renungkan, apakah ada cacat atau cela pada
makhluk yang diciptakan Allah, demikian juga pada sistem, hukum dan peraturan
yang berlaku padanya? Mahabesar dan Maha Pencipta Allah, Tuhan seru sekalian
alam, tiada suatu cacat atau cela pun terdapat pada makhluk yang
diciptakan-Nya.
Kemudian seolah-olah Allah melanjutkan
pertanyaan-Nya kepada manusia apakah mereka masih ragu tentang kekuasaan dan
kebesaran-Nya? Apakah manusia masih ragu tentang sistem, hukum, dan peraturan
yang dibuat untuk makhluk-Nya, termasuk di dalamnya mereka sendiri? Jika masih
ragu, manusia diperintahkan untuk memperhatikan, merenungkan, dan mempelajari
kembali dengan sebenar-benarnya. Apakah mereka masih mendapatkan dalam ciptaan
Allah itu sebagian yang tidak sempurna?
Dari pertanyaan yang dikemukakan ayat ini,
dapat dipahami bahwa seakan-akan Allah menantang manusia, agar mencari (kalau
ada) sedikit saja kekurangan dan ketidaksempurnaan pada ciptaan-Nya. Seandainya
ada kekurangan, cacat, dan cela dalam ciptaan Allah, maka manusia pantas untuk
mengingkari keesaan dan kekuasaan-Nya. Akan tetapi, mereka kagum dan mengakui
kerapian ciptaan Allah itu, bahkan mereka mengakui kelemahan mereka. Jika
demikian halnya, maka keingkaran mereka itu bukanlah ditimbulkan karena
ketidakpercayaan mereka kepada Allah, tetapi semata-mata karena kesombongan dan
keangkuhan mereka semata.
4.
Pertanyaan Allah kepada manusia pada ayat di atas dijawab sendiri oleh
Allah pada ayat ini dengan mengatakan bahwa sekali pun manusia berulang-ulang
memperhatikan, mempelajari, dan merenungkan seluruh ciptaan Allah, pasti ia
tidak akan menemukan kekurangan dan cacat, walau sedikit pun. Jika mereka
terus-menerus melakukan yang demikian itu, bahkan seluruh hidup dan
kehidupannya digunakan untuk itu, akhirnya ia hanya akan merasa dan tidak akan
menemukan kekurangan, sampai ia mati dan kembali kepada Tuhannya.
Dari ayat ini, dapat dipahami bahwa tidak ada
seorang pun di antara manusia yang sanggup mencari kekurangan pada ciptaan
Allah. Jika ada di antara manusia yang sanggup, hal ini berarti bahwa dia
mengetahui seluruh ilmu Allah. Sampai saat ini belum ada seorang pun yang
mengetahuinya dan tidak akan ada seorang pun yang dapat memiliki seluruh ilmu
Allah. Seandainya ada di antara manusia yang dianggap paling luas ilmunya, maka
ilmu yang diketahuinya itu hanyalah merupakan sebahagian kecil dari ilmu Allah.
Akan tetapi, banyak di antara manusia yang tidak mau menyadari kelemahan dan
kekurangannya, sehingga mereka tetap ingkar kepada-Nya.
5.
Setelah menyatakan bahwa tidak terdapat kekurangan sedikit pun dalam
ciptaan-Nya, Allah menegaskan bahwa Dialah Tuhan Yang Mahakuasa lagi Mahaagung,
dengan mengatakan bahwa Dia telah menghias langit yang terdekat ke bumi dengan
matahari yang bercahaya terang pada siang hari, bulan dan bintang-bintang yang
bersinar pada malam hari, yang dapat dilihat oleh manusia setiap datangnya
siang dan malam. Langit yang berhiaskan matahari, bulan, dan bintang-bintang
yang bersinar itu terlihat oleh manusia seakan-akan rumah yang berhiaskan
lampu-lampu yang gemerlapan di malam hari, sehingga menyenangkan hati orang
yang memandangnya.
Perumpamaan yang dikemukakan ayat di atas
merupakan perumpamaan yang indah dan langsung mengenai sasarannya. Yaitu bahwa
alam semesta ini diumpamakan seperti rumah. Rumah merupakan tempat tinggal
manusia, tempat mereka berlindung dari terik matahari dan tempat berteduh di
waktu hujan, tempat mereka bersenang-senang dan beristirahat, tempat mereka
membesarkan anak-anak mereka, dan sebagainya. Demikianlah alam ini diciptakan
Allah untuk kepentingan manusia seluruhnya.
Bintang-bintang itu di samping menghiasi
langit, juga dapat menimbulkan nyala api yang dapat digunakan untuk melempari
setan terkutuk yang mencuri dengar pembicaraan penduduk langit.
Sebagian ulama ada yang menafsirkan ayat ini
dengan mengatakan bahwa Allah menciptakan bintang-bintang sebagai hiasan dunia
dan untuk menimbulkan rezeki bagi manusia, yaitu dengan adanya siang dan malam
dengan segala macam manfaatnya yang dapat diperoleh darinya. Rezeki yang
diperoleh manusia karena adanya siang dan malam itu, ada yang menjadi sebab
timbulnya kebaikan dan ada pula yang menjadi sebab timbulnya kejahatan yang
dapat mengobarkan nafsu jahat.
Qatadah mengatakan bahwa Allah menciptakan
bintang-bintang itu dengan tiga tujuan, yaitu: pertama, untuk hiasan langit;
kedua, untuk melempar setan; dan ketiga, untuk menjadi petunjuk arah dan alamat
bagi para musafir yang sedang dalam perjalanan, baik di darat, laut, maupun di
ruang angkasa yang sangat luas ini. Barangkali Qatadah menerangkan di antara
tujuan Allah menciptakan bintang-bintang sejauh yang ia ketahui, karena masih
banyak tujuan yang lain, baik yang telah diketahui maupun yang belum diketahui
oleh manusia. Allah Mahaluas ilmu-Nya lagi Mahabijaksana.
Demikianlah Allah menciptakan bintang-bintang
yang menghiasi alam raya yang tidak terhitung banyaknya. Semua itu dapat
dimanfaatkan manusia sesuai dengan keinginan yang hendak dicapainya. Jika
keinginan yang hendak dicapai itu adalah keinginan yang sesuai dengan keridaan
Allah, tentu Allah akan melapangkan jalan bagi tercapainya keinginan itu dan
memberinya pahala yang berlipat-ganda. Sebaliknya jika keinginan yang hendak
dicapai itu adalah keinginan yang berlawanan dengan keridaan Allah, maka bagi
mereka disediakan azab yang pedih.
6. Telah
menjadi ketetapan dan sunatullah bahwa setiap orang yang menyekutukan dan
mengingkari Allah, serta mendustakan para rasul yang diutus-Nya, akan
dimasukkan ke dalam neraka. Neraka itulah tempat yang paling buruk yang
disediakan bagi mereka. Di dalamnya mereka akan merasakan penderitaan dan
siksaan yang amat pedih dan menyengsarakan.
Kemudian Allah menerangkan sikap neraka pada
waktu orang-orang kafir dimasukkan ke dalamnya, yaitu:
1. Ketika
orang-orang kafir dilemparkan ke dalamnya, terdengarlah suaranya yang gemuruh
lagi dahsyat sebagai tanda kemarahannya.
2. Neraka
itu menggelegak, laksana periuk besar merebus orang-orang kafir dengan airnya
yang mendidih.
3. Neraka
itu seakan-akan hampir pecah waktu orang-orang kafir dilemparkan ke dalamnya.
4. Neraka
itu sangat ganas dan marah kepada setiap orang yang berada di dalamnya.
5. Setiap
kali rombongan orang kafir dimasukkan ke dalamnya, penjaga-penjaga neraka itu
mencerca mereka, "Belum pernahkah seorang rasul datang kepada kamu. Kenapa
kamu tidak mengikuti seruan para rasul yang disampaikan kepadamu?"
6. Penduduk
neraka mengakui bahwa telah datang rasul-rasul kepada mereka, akan tetapi
mereka mendustakannya; bahkan menuduh bahwa para rasul itulah yang berada dalam
kesesatan
7. Dalam
ayat ini, diterangkan keadaan neraka sebagai tempat yang disediakan bagi
orang-orang kafir serta sikapnya ketika mereka dilemparkan ke dalamnya. Pada
waktu orang-orang kafir dilemparkan ke dalamnya, terdengarlah oleh mereka suara
gemuruh yang amat dahsyat dan menakutkan. Neraka itu terdengar menggelegak
seakan-akan seperti periuk besar dan orang-orang kafir direbus di dalamnya
dengan air yang mendidih dan menggelegak karena panasnya.
8.
Selanjutnya diterangkan bahwa neraka itu menerima orang-orang kafir
dengan kemarahan yang sangat. Demikian marahnya, sehingga hampir saja mereka
itu pecah berkeping-keping. Dalam keadaan demikian, malaikat Zabaniyah pun
mencela dan mencerca mereka, "Tidak pernahkah datang kepada kamu seorang
rasul yang diutus Allah yang memperingatkan kamu kepada azab hari Kiamat yang
menimpamu pada saat ini?" Hal ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak akan
mengazab suatu kaum, melainkan setelah Dia mengutus seorang rasul dan mereka
tidak mengindahkan seruan itu. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:
¦tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami
mengutus seorang rasul. (al-Isra'/17: 15)
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa manusia
dituntut melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan
larangan-larangan-Nya jika telah disampaikan kepada mereka seruan rasul yang
diutus kepada mereka. Hal ini berlaku baik seruan itu disampaikan secara
langsung maupun tidak langsung, yaitu dengan perantaraan orang-orang yang telah
beriman kepada-Nya.
9. Dalam
ayat ini diterangkan bahwa pertanyaan para malaikat itu dijawab oleh
orang-orang kafir yang sedang diazab itu dengan mengakui bahwa telah datang
kepada mereka seorang rasul. Dia telah membacakan kepada mereka ayat-ayat Tuhan
dan telah memperingatkan mereka akibat yang akan diterima oleh orang-orang yang
tidak memperkenankan seruan itu. Akan tetapi, mereka mendustakan dan bahkan
mengejek para rasul itu dengan mengatakan; Hai orang yang telah mengaku
menerima wahyu dari Allah. Sebenarnya tidak ada sesuatu wahyu pun yang
diturunkan Allah kepadamu karena engkau bukanlah seorang rasul yang diutus
kepada kami. Engkau hanyalah manusia biasa seperti kami juga, bahkan engkau
lebih miskin dan lebih rendah derajatnya daripada kami. Tidak ada guna dan
faedahnya sedikit pun semua perkataan yang engkau ucapkan itu bagi kami, bahkan
kamu seluruhnya yang mengaku bahwa sebagai rasul yang diutus oleh Tuhan,
sebetulnya adalah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang besar."
Pada ayat yang lain, Allah berfirman:
Orang-orang yang kafir digiring ke neraka
Jahanam secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (neraka)
pintu-pintunya dibukakan dan penjaga-penjaga berkata kepada mereka,
"Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul dari kalangan kamu yang
membacakan ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan
(dengan) harimu ini?" Mereka menjawab, "Benar, ada," tetapi
ketetapan azab pasti berlaku terhadap orang-orang kafir. (az-Zumar/39: 71)
10.
Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang kafir yang sedang
diazab di dalam neraka itu menyesali sikap dan tindakan mereka selama hidup di
dunia dengan mengatakan, "Sekiranya kami mau menggunakan akal dan pikiran
kami yang telah dianugerahkan Allah, untuk menilai dan mengambil manfaat dari
seruan rasul itu, demikian pula seandainya kami menggunakan telinga kami untuk
mendengar ayat-ayat Allah yang telah diturunkan dan disampaikan kepada kami
oleh rasul yang telah diutus-Nya, tentu kami tidak akan menyangkal dan mengingkari
kebenaran yang disampaikan itu. Kami tidak akan tepedaya oleh kesenangan dan
pengaruh dunia yang fana ini, tidak akan teperdaya oleh tipu daya setan, dan
tidak akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala ini yang azabnya tidak
tertanggungkan sedikit pun oleh kami."
11.
Dalam ayat ini, Allah menerangkan pula bahwa sekalipun orang-orang kafir
yang sedang diazab di dalam neraka itu telah mengakui perbuatan dosa yang telah
mereka lakukan selama hidup di dunia dan menyatakan tobat dengan sesungguhnya,
namun pengakuan dan pernyataan tobat mereka itu tidak ada manfaatnya sedikit
pun. Sebab, tobat yang diterima Allah hanyalah tobat yang dilakukan oleh
seseorang pada waktu ia hidup di dunia, dengan syarat:
1. Meninggalkan
dosa yang dilakukan dengan segera.
2. Menyesali
perbuatan dosa yang telah dilakukan.
3. Berjanji
tidak akan melakukan perbuatan dosa yang telah dikerjakannya dan
perbuatan-perbuatan yang lain yang dilarang oleh Allah.
Di akhirat, orang-orang kafir itu telah
dijauhkan dari rahmat Allah sehingga apa pun yang berupa rahmat-Nya, seperti
pengampunan dosa, kebahagiaan hidup, dan lain-lain, tidak akan mereka dapatkan
lagi. Hanya kebinasaan yang akan menimpa mereka.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa sebenarnya
seruan agar menganut agama Allah dan mengikuti seruan rasul itu telah sampai
kepada hampir seluruh tempat di dunia ini dan kepada seluruh manusia. Sementara
itu, ajaran agama yang disampaikan rasul itu mudah diterima dan dilaksanakan
oleh manusia mana pun yang telah balig dan berakal, karena tujuan ajaran agama
itu ialah untuk kemaslahatan umat manusia dalam hidup di dunia dan di akhirat
nanti, bukan untuk memberatkan dan menyempitkan. Di samping itu, ajaran agama
itu mudah diterima akal yang sehat karena sifatnya yang mudah dimengerti dan sesuai
dengan akal budi manusia. Akan tetapi, karena hawa nafsu, kedudukan, pangkat,
harta, dan ingin mendapat simpati, kehormatan, dan ditambah lagi dengan godaan
setan yang tujuannya hanyalah untuk menyesatkan manusia, mereka tidak
mengindahkan seruan itu. Akibatnya, mereka mendapat balasan yang setimpal
dengan kekafiran dan keingkaran mereka itu. Betapa banyak orang yang tadinya
telah beriman dan melakukan ajaran agama Islam dengan baik tetapi kemudian
karena pengaruh hawa nafsu dan godaan setan, mereka tidak segan-segan
meninggalkan kepercayaan dan keyakinan yang telah tumbuh dengan subur dalam
hati mereka, bahkan mereka tidak segan-segan menghancurkan Islam dan kaum
Muslimin.
Allah sendiri selalu mengingatkan mereka dengan
memberikan cobaan-cobaan berupa kesenangan dan penderitaan, tetapi mereka hanya
sadar sampai cobaan itu hilang dari mereka. Setelah itu, mereka kembali
mengingkari ajaran dan seruan rasul. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika di
akhirat nanti mereka tidak akan mendapat pertolongan dari Allah dan akan
dijauhkan dari rahmat-Nya.
12. Ayat
ini menerangkan tanda-tanda orang bertakwa yang tunduk dan patuh kepada Allah,
dan yakin bahwa Allah mengetahui segala yang mereka lakukan baik yang tampak
maupun yang tersembunyi.
Tanda-tanda itu ialah:
1. Senantiasa
takut kepada azab Allah walaupun azab itu merupakan suatu yang gaib, tidak
tampak dan belum tentu kapan datangnya.
2. Merasa
takut akan kedatangan hari Kiamat, karena mengingat malapetaka yang akan
terjadi pada diri mereka seandainya mengingkari Allah, seperti peristiwa yang
akan terjadi pada hari perhitungan, hari pembalasan, dan azab neraka yang tiada
terkirakan.
3. Yakin
dan percaya bahwa Allah selalu mengawasi, memperhatikan, dan mengetahui di mana
dan dalam keadaan bagaimana mereka setiap saat.
Dalam hadis Nabi Muhammad disebutkan:
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah saw
bersabda, "Tak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut
kepada Allah. (Riwayat at-Tirmidhi, an-Nasa'i, Ahmad, al-hakim, dan lainnya)
Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan
mengerjakan amal yang saleh, tidak ada kekhawatiran terhadap diri mereka dan
mereka tidak bersedih hati terhadap segala sesuatu yang luput dari mereka,
sebagaimana firman Allah:
Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan
kebajikan, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di
sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
(al-Baqarah/2: 277)
Orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah
selalu merasa mendapat pengawasan dari-Nya. Mereka yakin bahwa Dia melihat dan
memperhatikan mereka, sebagaimana yang diucapkan Nabi Muhammad dalam konteks
ihsan:
Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan kamu
melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah
melihatmu. (Riwayat al-Bukhari, Muslim, dan Abu Hurairah)
Allah menjanjikan bahwa orang-orang mukmin yang
bersifat demikian akan diampuni dosa-dosanya dan akan diberi pahala yang besar
di akhirat kelak.
13.
Menurut riwayat Ibnu 'Abbas, ia berkata, "Pada suatu ketika
orang-orang musyrikin mempergunjingkan Nabi Muhammad dan menjelek-jelekkannya,
maka Allah menurunkan kepada beliau semua yang dibicarakan mereka itu. Lalu
sebahagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Rendahkanlah suaramu
agar kata-katamu tidak didengar oleh Tuhan Muhammad." Maka turunlah ayat
ini yang antara lain menjelaskan bahwa tidak ada suatu apa pun yang luput dari
pengetahuan Allah.
Pada ayat ini, Allah kembali menjelaskan bahwa
Dia mengetahui segala yang dirahasiakan dan segala yang dilahirkan oleh
hamba-hamba-Nya, baik berupa perkataan, perbuatan, dan segala yang dirasakan
oleh hati dan panca indera. Semuanya itu tidak luput sedikit pun dari
pengetahuan Allah, karena Dia Maha Mengetahui segala isi hati.
Dari ayat ini dapat pula diambil kesimpulan
bahwa semua doa yang dipanjatkan kepada Allah, baik dengan suara keras,
berbisik, lemah-lembut maupun dengan gerakan hati saja akan diketahui Allah.
14. Ayat
ini seakan-akan memperingatkan orang-orang musyrik yang tidak percaya akan luas
dan detilnya pengetahuan Allah, bahwa Tuhan Maha Mengetahui segala isi langit
dan bumi betapa pun kecilnya, betapa pun jauh disembunyikan, serta mengetahui
perkataan-perkataan yang dirahasiakan. Sesungguhnya pengetahuan Allah dapat menembus
dinding yang sangat tebal dan kokoh dan sesuatu yang paling tersembunyi
letaknya sekalipun.
Seandainya orang-orang kafir mau menggunakan
akalnya, tentu ia akan berpendapat bahwa yang menciptakan seluruh alam ini,
termasuk di dalamnya bumi dengan segala isinya, adalah Allah. Pencipta itu
pasti mengetahui keadaan dan sifat-sifat dari ciptaan-Nya, baik yang kecil
maupun yang besar. Oleh karena itu, apa pun yang terjadi pada ciptaan-Nya,
Allah mengetahuinya dengan rinci.
15. Ayat
ini menerangkan nikmat Allah yang tiada terhingga yang telah dilimpahkan-Nya
kepada manusia, dengan menyatakan bahwa Allah telah menciptakan bumi dan
memudahkannya untuk mereka, sehingga mereka dapat mengambil manfaat yang tidak
terhingga untuk kepentingan hidup mereka. Dia menciptakan bumi itu bundar dan
melayang-layang di angkasa luas. Manusia tinggal di atasnya seperti berada di
tempat yang datar terhampar, tenang, dan tidak bergoyang. Dengan perputaran
bumi terjadilah malam dan siang, sehingga manusia dapat berusaha pada siang
hari dan beristirahat pada malam hari. Bumi memancarkan sumber-sumber mata air,
yang mengalirkan air untuk diminum manusia dan binatang ternak peliharaannya.
Dengan air itu pula manusia mengairi
kebun-kebun dan sawah-sawah mereka, demikian pula kolam-kolam tempat mereka
memelihara ikan. Dengan air itu pula mereka mandi membersihkan badan mereka
yang telah kotor, sehingga mereka merasa segar dan nyaman. Diciptakan-Nya pula
bukit-bukit, lembah-lembah, gunung-gunung yang menghijau yang menyejukkan hati
orang yang memandangnya. Dari celah-celah bukit itu mengalirlah sungai-sungai
dan di antara bukit-bukit dan lembah-lembah itu manusia membuat jalan-jalan
yang menghubungkan suatu negeri dengan negeri yang lain. Alangkah banyaknya
nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada manusia. Seandainya Allah menahan
suatu nikmat saja kepada manusia, misalnya tidak memberikan udara yang akan
dihirup, manusia akan mengalami penderitaan yang sangat. Siapakah yang dapat
mengingkari nikmat Allah yang demikian banyaknya itu?
Menurut para saintis, bumi yang diseliputi
atmosfer sangat dinamis. Proses-proses geologi yang mencakup dari proses erosi,
pengendapan, naik-turun muka laut, gempa bumi, pergerakan magma, sampai ke
letusan gunung api dalam rentang waktu jutaan tahun telah memungkinkan
terjadinya cebakan-cebakan mineral maupun energi. Di bagian lain, laut dan
atmosfer pun tak kalah dinamisnya. Interaksinya dengan daratan dan
perjalanannya bersama bulan mengitari matahari membentuk iklim dan musim.
Proses-proses dinamis yang melibatkan daratan-laut dan atmosfer tersebut
memungkinkan terjadinya siklus hidrologi yang pada gilirannya menurunkan hujan
dan menyebabkan kesuburan tanah serta terbentuknya cadangan air baik di danau,
sungai maupun dalam tanah. Oksigen dan air yang merupakan kebutuhan vital
manusia tersedia melimpah dan amat mudah didapatkannya.
Ayat ini menyatakan bahwa dengan sifat
rahman-Nya kepada seluruh umat manusia, maka Allah bukan saja telah menyediakan
seluruh sarana dan prasarana bagi manusia. Ia juga telah memudahkan manusia
untuk hidup di permukaan bumi. Manusia diperintahkan Allah untuk berjalan di
permukaan bumi untuk mengenali baik tempatnya, penghuninya, manusianya, hewan
dan tumbuhannya.
Manusia tidak saja diberi udara, tumbuhan,
hewan, dan cuaca yang menyenangkan, tapi juga diberi perlengkapan dan
kenyamanan untuk mencari rezeki di bumi dengan segala yang ada di atasnya
maupun terkandung di dalamnya.
Setelah Allah menerangkan bahwa alam ini
diciptakan untuk manusia dan memudahkannya untuk keperluan mereka, maka Dia
memerintahkan agar mereka berjalan di muka bumi, untuk memperhatikan keindahan
alam, berusaha mengolah alam yang mudah ini, berdagang, beternak, bercocok
tanam dan mencari rezeki yang halal. Sebab, semua yang disediakan Allah itu
harus diolah dan diusahakan lebih dahulu sebelum dimanfaatkan bagi keperluan
hidup manusia.
Dengan memahami ayat ini, dapat dikemukakan
hal-hal yang berikut:
1. Allah
memerintahkan agar manusia berusaha dan mengolah alam untuk kepentingan mereka
guna memperoleh rezeki yang halal. Hal ini berarti bahwa tidak mau berusaha dan
bersifat pemalas bertentangan dengan perintah Allah.
2. Karena
berusaha dan mencari rezeki itu termasuk melaksanakan perintah Allah, maka
orang yang berusaha dan mencari rezeki adalah orang yang menaati Allah, dan hal
itu termasuk ibadah. Dengan perkataan lain bahwa berusaha dan mencari rezeki
itu bukan mengurangi ibadah, tetapi memperkuat dan memperbanyak ibadah itu
sendiri.
Diriwayatkan oleh Ahmad dari 'Umar bin
al-Khaththab, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah bersabda:
Jika kalian benar-benar bertawakal kepada
Allah, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana Allah memberikan
rezeki-Nya kepada burung. Pergi mencari rezeki dengan perut yang kosong, dan
petang hari ia kembali ke sarangnya dengan perut yang berisi penuh. (Riwayat
at-Tirmidhi, Ahmad, al-Baihaqi, dan Abu Dawud dari 'Umar bin al-Khaththab)
Hadis ini menunjukkan bahwa waktu sejak pagi
hari sampai petang adalah waktu untuk mencari rezeki, seperti yang telah
dilakukan burung. Jika manusia benar-benar mau berusaha sejak pagi sampai
petang pasti Allah memberinya rezeki. Mereka tidak akan kelaparan. Dari hadis
ini juga dapat dipahami bahwa orang yang tidak mau berusaha tidak akan diberi rezeki
oleh Allah.
Diriwayatkan oleh al-hakim dan at-Tirmidhi dari
Mu'awiyah bin Qurrah, ia berkata, "Pada suatu hari 'Umar bin Khaththab
lewat di perkampungan suatu kaum, lalu beliau bertanya kepada kaum itu,
"Siapakah kamu?" Mereka menjawab, "Kami adalah orang-orang yang
bertawakal kepada Allah." Umar berkata, "Kamu bukanlah orang-orang
yang bertawakal kepada Allah, melainkan orang-orang yang telah dimakan karat.
Adapun orang yang bertawakal kepada Allah ialah orang yang menanamkan benih ke
dalam tanah, lalu ia bertawakal kepada Allah."
Dalam mencari rezeki ajaran Islam memberikan
beberapa pedoman:
1. Agar
setiap manusia berusaha mencukupkan keperluan dirinya dan keluarganya. Oleh
karena itu, orang yang berangkat dari rumahnya pagi hari untuk mencari rezeki, termasuk
orang yang didoakan oleh Nabi Muhammad agar diberkahi Allah.
Bahwa Nabi Muhammad saw berkata, "Wahai
Allah, berkatilah umatku yang berangkat berusaha pagi-pagi." (Riwayat
at-Tirmidhi dari sakhr bin al-Gamidi)
2. Dalam
berusaha itu hendaklah mencari yang halal. Maksudnya ialah mencari rezeki
dengan cara-cara yang halal, tidak dengan mencuri, menipu, korupsi, dan
sebagainya. Rezeki yang dicari itu adalah rezeki yang halal, bukan yang haram,
seperti khamar, bangkai, dan sebagainya, sesuai dengan hadis: Dari Ali bahwa
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala senang melihat
hamba-Nya, dalam mencari yang halal." (Riwayat ath-thabrani)
Hadis
yang lain menerangkan:
Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda,
"Mencari rezeki yang halal wajib bagi setiap orang muslim." (Riwayat
ath-thabrani)
Pada akhir ayat, Allah memberi peringatan
kepada manusia bahwa semua makhluk akan kembali kepada-Nya pada hari Kiamat,
dan pada waktu itu akan ditimbang semua perbuatan manusia. Amal baik dibalas
dengan pahala yang berlipat ganda, sedangkan perbuatan buruk akan dibalas
dengan azab neraka. Oleh karena itu, hendaklah manusia selalu mawas diri,
berusaha melaksanakan amal saleh sebanyak mungkin dan menilai serta meneliti
perbuatan-perbuatan yang akan dikerjakan, berusaha memohon ampun kepada Allah
atas kesalahan yang telanjur dilakukan atau yang tanpa disadari bahwa perbuatan
itu termasuk perbuatan yang dilarang Allah. Maka setiap muslim seyogyanya
mencari rezeki yang halal saja, jangan sekali-kali memakan rezeki yang
diperoleh dengan cara yang haram atau bendanya sendiri adalah benda yang haram.
Ingatlah bahwa semua makhluk tanpa ada kecualinya akan kembali kepada-Nya.
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
16.
Dalam ayat ini, Allah memperingatkan orang-orang kafir tentang azab yang
akan menimpa mereka, apabila tetap dalam kekafiran. Peringatan ini diberikan
Allah karena mereka seakan-akan merasa akan terhindar dari siksa Allah yang
akan ditimpakan kepada mereka, bahkan mereka merasa telah mendapat rahmat yaitu
kesenangan duniawi yang sedang mereka rasakan. Tanda-tanda kekafiran itu
terlihat pada sikap, tindakan, dan tingkah laku mereka. Oleh karena itu, Allah
memperingatkan mereka dengan mengatakan, "Hai orang-orang kafir apakah
kamu sekalian merasa aman dan akan terhindar dari azab Allah, padahal azab itu
pasti akan menimpa kamu? Apakah kekuasaan dan kesenangan yang kamu peroleh itu
tidak mungkin dilenyapkan Allah padahal kekuasaan dan kesenangan itu
semata-mata berasal dari rahmat-Nya? Apakah tidak mungkin bahwa itu adalah
ujian dari Allah kepadamu? Ingatlah, Allah telah menimpakan azab yang dahsyat
kepada orang-orang dahulu, seperti azab yang ditimpakan kepada Karun dan
pengikut-pengikutnya. Mereka telah dibenamkan ke dalam bumi. Pada saat Allah
akan membenamkan mereka ke dalam bumi, maka terjadilah gempa yang dahsyat yang
mengguncangkan bumi."
17. Pada
ayat ini, Allah melanjutkan peringatan-Nya, "Demikian pula apakah kamu
merasa aman dan akan terhindar dari azab Allah yang sewaktu-waktu dapat
mengembuskan angin bercampur batu yang dapat menghancurkan kamu sekalian
seketika? Ingatlah, azab yang seperti ini telah menimpa kaum Lut, karena mereka
telah mendustakan Nabi Lut yang diutus kepada mereka. Pada saat kedatangan azab
itu, kamu semua akan menyaksikan betapa dahsyatnya azab Kami, tetapi
pengetahuan kamu pada waktu itu tidak ada gunanya."
Pada ayat lain, Allah berfirman:
Katakanlah (Muhammad), "Dialah yang
berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia
mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan
merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain."
Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasaan
Kami) agar mereka memahami(nya). (al-An'am/6: 65)
Firman Allah yang lain:
Maka apakah kamu merasa aman bahwa Dia tidak
akan membenamkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin
kencang yang membawa) batu-batu kecil? Dan kamu tidak akan mendapat seorang
pelindung pun. (al-Isra'/17: 68)
18.
Kemudian Allah memerintahkan agar orang-orang kafir memperhatikan
penderitaan yang telah dialami umat-umat yang terdahulu, karena telah
mendustakan para rasul yang telah diutus kepada mereka. Di antaranya seperti
kaum Nuh yang telah ditenggelamkan banjir yang mahadahsyat, kaum Syuaib yang
telah dibinasakan dengan petir, serta Fir'aun dan kaumnya telah ditenggelamkan
di Laut Merah. Mereka semua baru menyesali perbuatan yang mereka lakukan pada
saat azab itu datang menimpa. Semuanya bisa menjadi pelajaran untuk direnungkan
dan diperhatikan betapa dahsyat siksa Allah yang ditimpakan kepada orang-orang
yang durhaka kepada-Nya.
19.
Allah menerangkan bahwa Dia Mahakuasa lagi Maha Menentukan segala
sesuatu. Sebagai salah satu buktinya ialah kekuasaan-Nya menahan burung yang
sedang berada di angkasa, sehingga tidak jatuh ke bumi. Burung-burung yang
sedang berada di angkasa kadang-kadang terbang melayang dengan mengembangkan
sayapnya. Ia terbang meninggi atau menukik ke bawah, seakan-akan ia akan
terhempas ke bumi. Kadang-kadang dia mengatupkan kedua sayapnya. Siapakah yang
menahan burung itu dari kejatuhan pada waktu dia mengembangkan dan mengatupkan
sayapnya? Bukankah ini bertentangan dengan hukum alam bahwa barang yang berat
itu akan jatuh ke bumi disebabkan daya tarik (gravitasi) bumi?
Hal yang senada juga dapat dilihat pada ayat di
bawah ini.
Tidakkah mereka melihat burung-burung yang
ditundukkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain Allah.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang beriman. (an-Nahl/16: 79)
Secara saintifik dapat dijelaskan bahwa burung
bisa terbang adalah keunikan. Untuk dapat terbang, burung seharusnya sangat
ringan. Untuk dapat lepas landas dan terus terbang di udara, burung-burung
semestinya harus cukup ringan. Pada saat yang sama, ia juga harus sangat kuat
dan tangguh. Kekuatan diperlukan untuk dapat tetap terbang dalam waktu yang
lama, dan bermanuver untuk menangkap mangsa atau saat turun ke tempat mereka
hinggap.
Tulang leher burung harus kuat sekaligus
lentur. Jumlah ruas tulang leher bervariasi, ada yang 11 ada yang lebih.
Kelenturan leher diperoleh dari sekelompok otot yang bekerja dengan sangat
efisien. Kelenturan diperlukan untuk berbagai keperluan. Seperti pada burung
laut yang menyambar ikan dengan kecepatan sangat tinggi.
Tulang burung umumnya berlubang di tengahnya,
dan berdinding tipis. Berat tubuh burung diletakkan di bagian tengah tubuh. Di
bagian dada terdapat tulang dada yang besar yang melekat pada otot dada besar.
Otot dada inilah yang menggerakkan sayap. Otot dada meliputi sekitar 25-30%
dari keseluruhan berat badan burung.
Otot dada yang bekerja keras untuk menggerakkan
sayap cukup mengganggu kerja paru-paru. Untuk menanggulanginya, burung
mempunyai sistem pernapasan yang berbeda. Sistem pernapasan yang digunakan
adalah dengan tersebarnya kantung-kantung udara di seluruh bagian tubuhnya.
Kantung demikian ini juga dapat ditemui di tulang bagian tengah yang berlubang.
Udara dialirkan ke semua bagian tubuh burung dan diserap darah dengan cepat.
Penyerapan berjalan cepat karena denyut jantung yang sangat kuat.
Penglihatan yang tajam merupakan syarat utama.
Burung merupakan binatang yang paling mengandalkan penglihatan dalam
kehidupannya. Pada beberapa burung, bahkan besar matanya melebihi besar
otaknya. Burung dapat melihat ke kejauhan delapan kali lebih jelas dari
manusia. Matanya dapat beradaptasi dengan cepat untuk berpindah dari melihat
dekat ke melihat jauh, begitu juga sebaliknya.
Hal terpenting agar burung dapat terbang adalah
terdapatnya organ sayap dan bulu. Sayap adalah semacam tangan yang mempunyai
sendi peluru yang besar dan kuat di bagian bahu. Sendi ini sangat khusus, dan
digunakan untuk melakukan mobilitas yang sangat rumit. Kegunaannya adalah agar
burung dapat bermanuver dengan baik di udara. Sendi peluru yang demikian ini
dapat memposisikan sayap sehingga burung dapat berputar dengan cepat, berganti
arah, memperlambat terbang, terbang ke belakang, menukik dengan kecepatan
tinggi, dan mendarat dengan anggun.
Dengan gerakan mengembangkan dan mengatupkan
sayapnya, maka sesungguhnya burung-burung itu sedang mengepakkan sayapnya untuk
membangkitkan aerodynamic force (gaya aerodinamika), yaitu mengumpulkan tekanan
udara yang cukup di bawah sayapnya, yang akan memberikan gaya angkat dan gaya
dorong kepada burung-burung untuk dapat terbang. Gaya angkat ini untuk melawan
berat burung, sedang gaya dorong untuk melawan hambatan udara. Kedua gaya ini
dibangkitkan oleh gerakan kepakan sayap burung dengan siklus ke atas, ke bawah,
dan ke belakang secara kontiniu dan periodik. Sungguh Maha Pemurah Allah. Jika
Dia berkehendak menghilangkan udara, pasti burung-burung itu tidak mungkin
dapat terbang.
Bulu sayap adalah ciptaan Tuhan yang sangat
indah. Ringan, namun kuat, lentur, serba guna, mudah dirawat, berfungsi sebagai
penyekat panas, kedap air, dan dapat diganti. Warna bulu sangat penting bagi
burung. Beberapa burung mempunyai warna yang sesuai dengan lingkungannya
sehingga berfungsi untuk kamuflase. Jenis lainnya menggunakan warnanya untuk
menarik lawan jenisnya.
Banyak jenis burung melakukan migrasi dan
melakukan perjalanan yang sangat jauh. Dalam melakukan ini, mereka mempunyai
berbagai cara untuk menyimpan tenaga dalam perjalanan jauh ini. Bentuk formasi
terbang berkelompok yang menyerupai huruf V pada kebanyakan bebek atau belibis
saat bermigrasi, ternyata mempunyai maksud tertentu. Formasi ini ternyata
menghemat energi untuk seluruh kelompok. Hal ini disebabkan karena formasi V
ini menghasilkan aliran udara yang menguntungkan. Pada posisi tertentu dalam
formasi ini, individu burung dapat beristirahat karena ditopang oleh pola
aliran udara yang memungkinkan untuk beristirahat. Siapakah yang mengajar
mereka?
Sekarang kita tahu bahwa burung menghilang dari
satu tempat karena mereka berpindah ke tempat lain. Kita tahu kapan mereka
pergi, ke mana mereka menuju, dan rute mana yang mereka pilih.
Kadang-kadang perjalanan mereka sangat jauh,
seperti burung sandpiper. Burung ini bermigrasi dari Canada (di utara benua
Amerika) ke Tierro del-Fuego (di ujung selatan benua Amerika). Beberapa jenis
walet terbang sejauh 10.000 km dari Alaska ke Patagonia, Cile. Burung-burung
walet yang ada di Skandinavia (Eropa utara) terbang ke selatan Afrika di musim
dingin. Burung warbler yang sangat kecil, beratnya kurang dari satu ons,
terbang pada malam hari dari Jerman ke Afrika pada menjelang musim dingin.
Uniknya, burung ini terbang secara individu. Tidak terbang berkelompok seperti
jenis burung lainnya.
Burung tern artic adalah juara terbang jarak
jauh. Mereka kawin dan membesarkan anaknya di Kutub Utara pada saat musim
panas, dan menghabiskan musim dingin di Kutub Selatan. Allah berfirman:
Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya
bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan
sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan
Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (an-Nur/24: 41)
Kita tahu bahwa burung dapat terbang, karena
Allah 'memegangnya di udara. Mereka melakukan migrasi sepanjang jalur yang
misterius karena melaksanakan rencana Allah. Mereka terbang sebagai bagian dari
tasbih kepada Allah Sang Pencipta. Burung perkutut tidak ingin menjadi burung
elang. Burung gagak tidak peduli bahwa warna bulunya tidak seindah burung nuri.
Burung pemakan madu tidak akan mencoba untuk menangkap ikan sebagai ganti madu.
Itu adalah pelajaran bagi kita semua yang dapat berpikir.
Siapakah yang mengajar burung itu terbang
mengembangkan sayapnya? Bahkan, siapakah yang menciptakan burung itu dengan
bentuk tertentu, serta dilengkapi dengan organ-organ (alat-alat) sehingga ia
mampu terbang dan tidak jatuh ke bumi? Kenapa kuda tidak dapat terbang seperti
burung? Bila manusia mau memikirkan semua yang disebutkan itu akan yakinlah ia
bahwa sesungguhnya Allah Maha Pencipta, Mahakuasa, Maha Pemurah, dan Maha
Mengetahui segala yang diciptakan-Nya.
20.
Allah mencela orang-orang kafir yang menyembah sembahan-sembahan selain
Allah dengan bentuk pertanyaan yang menyatakan tak ada orang yang akan datang
menolong mereka serta melepaskannya dari siksa Allah. Mereka telah tertipu oleh
bisikan-bisikan setan yang menanamkan kepercayaan dalam hati mereka bahwa
berhala-berhala itu dapat menolong dan mengabulkan permintaan mereka. Dalam
kenyataannya tidaklah demikian. Berhala-berhala itu sendiri tidak dapat berbuat
apa-apa sama sekali, malah sebaliknya manusialah yang menentukan segala sesuatu
bagi dirinya. Orang-orang kafir itu tertipu oleh bisikan setan. Oleh karena
itu, Allah berfirman:
Dan mereka menyembah selain Allah apa yang
tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) mendatangkan bencana
kepada mereka. Orang-orang kafir adalah penolong (setan untuk berbuat durhaka)
terhadap Tuhannya. (al-Furqan/25: 55)
Perkataan "min dunir-rahman" (selain
dari Allah Yang Maha Pemurah) mengandung pengertian bahwa rahmat Allah itu
dilimpahkan kepada seluruh makhluk yang ada di alam ini, baik yang beriman
kepada Allah maupun yang kafir. Demikian pula kepada hewan, tumbuh-tumbuhan,
dan sebagainya, sehingga semuanya dapat hidup dan berkembang. Akan tetapi, di
akhirat nanti rahmat itu hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman saja.
Allah berfirman:
Katakanlah (Muhammad), "Siapakah yang
mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya
dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, "Semua itu untuk orang-orang yang
beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari
Kiamat." Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang
mengetahui. (al-A'raf/7: 32)
21.
Kepada orang-orang kafir yang mengingkari rezeki Allah, disampaikan
pernyataan dalam bentuk pertanyaan bahwa tak seorang pun dapat memberi rezeki,
bila Allah menahan untuk tidak memberikan rezeki itu kepada mereka. Mereka
diminta merenungkan seandainya Allah tidak lagi menurunkan hujan, mematikan
segenap tumbuh-tumbuhan sehingga seluruh permukaan bumi kering dan tandus,
mematikan semua hewan ternak yang dapat dimakan, menjadikan matahari berhenti
terbit di ufuk timur dan menjadikan hari terus menerus terang-benderang tanpa
berganti dengan gelap, bagaimana dan dari manakah mereka akan beroleh rezeki?
Kemudian diterangkan bahwa sebenarnya
orang-orang kafir itu percaya akan keesaan dan kekuasaan Allah. Mereka
mempersekutukan Allah hanya didorong oleh kesombongan serta keengganan mereka
menerima kebenaran karena takut kehilangan kedudukan dan pengaruh di dalam
masyarakatnya. Kesombongan dan keingkaran itu timbul dan disuburkan oleh tipu
daya serta godaan setan yang selalu menumbuhkan perasaan dalam pikiran dan
angan-angan mereka bahwa perbuatan mereka yang buruk itu adalah perbuatan baik
dan terpuji. Memang demikianlah tujuan setan hidup di dunia ini.
Allah berfirman:
(Allah) berfirman, "Maka turunlah kamu
darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya.
Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina." (Iblis)
menjawab, "Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka
dibangkitkan." (Allah) berfirman, "Benar, kamu termasuk yang diberi
penangguhan waktu." (al-A'raf/7: 13-15)
22. Pada
ayat ini, Allah memberikan perbandingan kepada manusia antara perjalanan hidup
yang ditempuh oleh orang-orang kafir dengan yang ditempuh oleh orang-orang yang
beriman. Perbandingan ini diberikan dalam bentuk pertanyaan yang menyatakan
bahwa orang yang selalu terjerembab atau tersungkur ketika berjalan dan kakinya
selalu tersandung karena melalui jalan yang berbatu-batu dan berlubang-lubang,
tidak mungkin akan selamat dan berjalan lebih cepat mencapai tujuan
dibandingkan dengan orang yang berjalan dalam suasana yang baik dan aman, di
atas jalan yang datar dan mulus, serta dalam cuaca yang baik pula.
Perbandingan dalam ayat di atas dikemukakan
dalam bentuk kalimat pertanyaan. Kalimat pertanyaan dalam ayat ini bukanlah
maksudnya untuk menanyakan sesuatu yang tidak diketahui, tetapi untuk
menyatakan suatu maksud yaitu bahwa perbuatan orang-orang kafir itu adalah
perbuatan yang tidak benar. Dinyatakan bahwa perjalanan hidup orang-orang kafir
itu adalah perjalanan hidup menuju kesengsaraan dan penderitaan yang sangat.
Seakan-akan ayat ini menyatakan bahwa tentu orang yang berjalan tertelungkup dengan
muka menyapu tanah akan mudah tersesat dalam perjalanannya mengarungi samudera
hidup di dunia yang fana ini, sedang di akhirat kelak mereka akan dimasukkan ke
dalam neraka yang menyala-nyala. Sedangkan orang yang berjalan dengan cara yang
baik, menempuh jalan yang baik dan lurus, yaitu jalan yang diridai Allah, tidak
akan tersesat dalam perjalanan hidupnya di dunia ini dan pasti akan sampai
kepada tujuan yang diinginkannya dan diridai Allah. Di akhirat nanti, mereka
akan menempati surga yang penuh kenikmatan yang disediakan Allah bagi mereka
yang bertakwa.
Selanjutnya dapat pula diambil pengertian dari
ayat ini bahwa manusia dalam menjalankan usahanya, melaksanakan pekerjaan, dan
menunaikan kewajibannya haruslah berdasarkan kepada ketentuan agama Islam, petunjuk
ilmu pengetahuan, akal pikiran yang sehat dan pengalaman, serta hasil
penelitian para ahli sebelumnya. Ini bertujuan agar usaha dan pekerjaannya
membuahkan hasil yang baik. Janganlah ia membabi-buta atau bekerja dengan
semaunya saja, karena yang demikian itu hanyalah akan mengundang kegagalan dan
bencana, baik untuk dirinya maupun orang lain.
23.
Selanjutnya dalam ayat ini, Allah menyuruh manusia memperhatikan
kejadian diri mereka sendiri. Allah memerintahkan Nabi Muhammad mengatakan
kepada orang-orang kafir bahwa sesungguhnya Allah-lah yang menganugerahkan
kepada manusia telinga sehingga dapat mendengarkan ajaran-ajaran agama-Nya yang
disampaikan kepada mereka oleh para rasul. Allah juga menganugerahkan kepada
mereka mata sehingga mereka dapat melihat, memandang, dan memperhatikan
kejadian alam semesta ini. Diberi-Nya mereka hati, akal, dan pikiran untuk
memikirkan, merenungkan, menimbang, dan membedakan mana yang baik bagi mereka
dan mana yang tidak baik, mana yang bermanfaat dan mana pula yang tidak
bermanfaat. Sebenarnya dengan anugerah Allah itu, manusia dapat mencapai semua
yang baik bagi diri mereka sebagai makhluk-Nya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati
merupakan satu kesatuan. Pendengaran dan penglihatan adalah piranti yang digunakan
oleh manusia untuk dapat memahami ayat-ayat Allah, sunatullah, yang dapat
digunakan (diaplikasikan) dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia. Metode observasi (pengamatan) dalam
penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sangat bergantung kepada
penggunaan piranti pendengaran dan penglihatan. Namun apabila hanya piranti
pendengaran dan penglihatan yang dipakai, dan mengabaikan hati (al-af'idah)
dalam keputusan penerapannya, maka hasilnya akan counter productive, yaitu akan
memberikan hasil yang lebih banyak mudaratnya dibanding manfaatnya. Pada
hakikatnya, hati (al-af'idah) harus dijadikan panduan dalam pengambilan
keputusan untuk penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dihasilkan
dengan metode pendengaran dan penglihatan tadi. Dari al-af'idah ini dapat
dikembangkan etika ilmu pengetahuan dan teknologi (science ethics) yang
didasarkan kepada nilai-nilai Islami.
Sedikit sekali manusia yang mau bersyukur
kepada Allah atas nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya itu. Sangat sedikit
manusia yang menyadari ketergantungan mereka kepada nikmat itu, padahal apabila
sedikit saja nikmat itu ditangguhkan pemberiannya kepadanya atau dicabut oleh
Tuhan, mereka merasa mendapat kesulitan yang sangat besar. Di saat itulah
mereka ingat kepada-Nya. Akan tetapi, bila nikmat itu mereka peroleh kembali
dan kesukaran itu telah berlalu, mereka kembali kafir kepada Allah.
24.
Allah memerintahkan agar Nabi Muhammad menyampaikan kepada orang-orang
kafir bahwa Dia telah menciptakan mereka semua dalam bentuk yang berbeda-beda
dan warna kulit yang bermacam-macam, menyediakan tempat bagi mereka di bumi dan
menyebarkan mereka semua ke setiap penjuru bumi. Allah pulalah yang memudahkan
mereka menguasai dan mengolah bumi untuk hidup dan kehidupan mereka. Oleh
karena itu, hanya kepada Allah-lah mereka kembali dan mempertanggungjawabkan
segala perbuatan yang telah mereka kerjakan selama hidup di bumi. Di akhirat
nanti Allah akan memberikan balasan dengan adil kepada mereka semua. Perbuatan
baik dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, sedangkan perbuatan buruk
diganjar dengan siksaan api neraka setimpal dengan keburukan amalnya.
25.
Orang-orang kafir itu bertanya kepada Rasulullah saw dengan maksud
mengejek dan menentang tentang kapan waktunya ditimpakan kepada mereka runtuhan
tanah yang mengimpit, angin kencang yang bercampur batu yang mengembus dan
melemparkan mereka, sebagai azab yang sering disebut-sebut akan menimpa orang
kafir? Kapan pula datangnya hari Kiamat yang pada hari itu seluruh perbuatan
manusia selama hidup di dunia akan dipertanggungjawabkan, dan mereka sebagai
orang yang durhaka akan masuk ke dalam neraka? Mereka minta dijelaskan
semuanya, jika Nabi termasuk orang yang dapat dipercaya perkataannya.
Dari pertanyaan orang-orang kafir ini dipahami
bahwa mereka menantang kebenaran yang disampaikan Rasulullah saw, karena
menurut mereka yang diancam itu tidak mungkin terjadi. Menurut mereka, mestinya
Muhammad saw dan pengikut-pengikutnya yang akan diazab, dan kenyataannya mereka
telah diazab Allah di dunia, berupa kesengsaraan dan siksaan yang ditimpakan
kepada mereka seperti kemiskinan, kemelaratan, dan hukuman yang diberikan oleh
orang-orang kafir Mekah kepada mereka. Orang-orang kafir itu mengatakan bahwa
yang akan diterima Muhammad dan pengikut-pengikutnya di akhirat nanti lebih
berat dari siksaan yang mereka terima di dunia.
26.
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasulullah menjawab omongan orang
kafir itu dengan mengatakan, "Wahai orang-orang kafir, hanya Allah sajalah
yang mengetahui semua yang kamu tanyakan itu. Sebab, tentang kapan datangnya
azab, dan terjadinya hari Kiamat termasuk pengetahuan yang gaib, hanya Allah
saja yang mengetahuinya. Mengenai diriku, tidak lain hanyalah rasul dan pesuruh
Allah yang diberi tugas menyampaikan agama-Nya kepada kamu sekalian, agar kamu
berbahagia hidup di dunia dan di akhirat nanti. Aku diperintahkan-Nya
menyampaikan berita kepadamu bahwa azab itu pasti datang menimpa orang-orang
kafir dan hari Kiamat itu pasti terjadi.
Pada ayat yang lain Allah berfirman:
Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang
hari Kiamat. Katakanlah, "Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi
Allah." Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat
waktunya. (al-Ahzab/33: 63)
Dari jawaban itu dapat dipahami bahwa
Rasulullah hanyalah manusia biasa dan mempunyai sifat-sifat dan kemampuan
seperti manusia biasa pula. Kelebihannya hanyalah terletak pada tugas yang
diberikan kepadanya. Di samping sifatnya seperti manusia biasa, ia diberi tugas
menyampaikan agama Allah. Oleh karena itu, ia tidak mengetahui ilmu yang gaib
kecuali jika Allah memberitahukan kepadanya. Tugasnya bukanlah menjadikan
seseorang beriman, tetapi semata-mata menyampaikan agama Allah dan memberi
penjelasan kepada manusia. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:
Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka
katakan, dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka
berilah peringatan dengan Al-Qur'an kepada siapa pun yang takut kepada
ancaman-Ku. (Qaf/50: 45)
Firman Allah lainnya:
Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan
mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa
yang Dia kehendaki. (al-Baqarah/2: 272)
27. Ayat
ini menerangkan bahwa hati orang-orang kafir menjadi kecut dan warna muka
mereka berubah setelah meyakini akan dekatnya kedatangan azab yang dijanjikan
pada hari Kiamat dan kedahsyatan yang akan menimpa mereka pada hari itu. Mereka
berada dalam keadaan penuh ketakutan dan penyesalan yang tidak henti-hentinya.
Pada saat itu malaikat mengatakan, "Inilah hari Kiamat dan azab Allah yang
kamu dustakan sewaktu hidup di dunia dahulu, bahkan kamu selalu meminta-minta
kedatangannya."
Pada ayat yang lain, Allah berfirman:
Dan jelaslah bagi mereka kejahatan apa yang
telah mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh apa yang dahulu mereka selalu
memperolok-olokkannya. (az-Zumar/39: 48)
28.
Rasulullah saw menyeru orang-orang kafir agar beriman kepada Allah Yang
Maha Esa dan menerangkan bahwa orang-orang yang menyembah berhala itu adalah
orang yang bodoh, karena mereka menyembah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan
manfaat dan mudarat. Sebagai reaksi terhadap seruan Rasulullah itu, mereka
berkata kepada teman-temannya, "Tunggu sajalah sampai saat tuhan kita
membunuh atau mencelakakan Muhammad dan pengikut-pengikutnya. Jika mereka telah
rusak binasa atau terbunuh semuanya, tentu mereka akan berhenti dengan
sendirinya menyiarkan agama mereka. Pada waktu itu barulah kita terlepas dari
gangguan dan hasutan-hasutannya."
Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya? Mereka
menakut-nakutimu dengan (sesembahan) yang selain Dia. Barang siapa dibiarkan
sesat oleh Allah maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
(az-Zumar/39: 36)
Allah membantah perkataan mereka dengan
memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada mereka, "Wahai
orang-orang musyrik, cobalah terangkan kepadaku, apakah faedah dan manfaat yang
akan kamu peroleh, jika doamu itu diperkenankan oleh berhala-berhala yang kamu
sembah selain Allah, sementara aku dan semua orang-orang yang beriman rusak
binasa dan mati semua? Apakah kebinasaan aku dan orang-orang yang beriman
bersamaku itu dapat membebaskan kamu dari azab Allah yang kamu durhakai itu?
Tidaklah kamu sekalian ingat bahwa telah menjadi ketetapan-Nya, bahwa azab itu
tetap diberikan kepada setiap orang yang ingkar kepada-Nya dan selalu berbuat
kejahatan? Apakah kamu tidak pernah memikirkan akibat doamu itu hai orang-orang
kafir? Seandainya aku dan pengikut-pengikutku mati semua dan dimasukkan-Nya ke
dalam surga yang dijanjikan-Nya kepada kami, apakah kamu akan lepas dari azab
Allah, dan siapakah yang dapat melepaskan kamu dari azab Allah itu?"
Jawaban yang disampaikan oleh Rasulullah saw di
atas merupakan jawaban yang sangat tepat dan mempengaruhi hati dan pikiran kaum
musyrikin, karena yang menyampaikan perkataan itu kepada mereka adalah orang
yang mereka percayai, segani, dan akui kepemimpinannya. Orang itu adalah Nabi
Muhammad yang pernah mereka serahi menyelesaikan perselisihan yang terjadi
antar mereka, dan mereka mengakui penyelesaiannya itu adalah penyelesaian yang
paling tepat dan adil. Walaupun ajaran yang disampaikan Muhammad itu berbeda
dengan kepercayaan yang mereka anut, tetapi pribadi Muhammad itu adalah jawaban
yang dapat diterima oleh orang yang mau mempergunakan akal pikirannya dengan
benar.
29.
Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada
orang-orang kafir Mekah, "Hai orang-orang kafir; aku dan
pengikut-pengikutku telah beriman kepada Tuhan semesta alam, Tuhan Yang Maha
Pemurah dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, Tuhan yang menetapkan hukum
dengan adil. Hanya kepada-Nya sajalah kami serahkan diri dan segala urusan
kami, karena Dialah yang menentukan keadaan diri kami dan hanya kepada-Nya
sajalah kami mohon pertolongan, karena hanya Dialah yang memberi pertolongan
dan memberi kami rezeki untuk kelangsungan hidup dan kehidupan kami. Hanya
Dialah yang dapat membebaskan kami dari semua bencana dan malapetaka yang
mungkin menimpa kami."
Ayat ini seolah-olah mencela sikap dan tindakan
orang-orang kafir yang menyembah patung-patung yang mereka buat sendiri yang
tidak dapat memberi manfaat dan mudarat bahkan harus mereka sendiri yang
memelihara dan merawatnya. Demikian pula sikap orang-orang kafir yang selalu
membangga-banggakan kekayaan, kekuasaan, dan keturunan mereka, sebagaimana
Allah berfirman:
Dan mereka berkata, "Kami memiliki lebih
banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami tidak akan diazab."
(Saba'/34: 35)
Karena kekafiran itu, mereka tidak akan
memperoleh kesenangan hidup di akhirat nanti. Kelak mereka akan mengetahui,
siapa di antara mereka dan orang-orang mukmin yang menempuh jalan yang benar
dan siapa yang menempuh jalan yang sesat. Yang menempuh jalan yang benar sampai
ke tempat yang baik penuh kenikmatan dan yang menempuh jalan yang sesat tentu
akan sampai di tempat yang sesat pula, penuh kesengsaraan dan penderitaan.
30.
Dalam ayat ini, Allah menerangkan lagi tanda-tanda kebesaran dan
kekuasaan-Nya, setelah pada ayat yang lalu Dia memerintahkan agar bertawakal
kepada-Nya. Allah memerintahkan Muhammad mengatakan kepada orang-orang kafir,
"Hai orang-orang kafir, cobalah terangkan kepadaku, apa yang terpikir
olehmu, seandainya atas kehendak Allah seluruh air yang mengalir di permukaan
bumi ini meresap ke dalam tanah, sehingga sumber-sumber air dan sumurmu menjadi
kering, timba-timbamu tidak dapat menimba air lagi. Apakah tuhanmu yang lain
dapat mendatangkan air itu, sehingga kamu dapat minum, kebun-kebunmu menjadi
subur kembali dan binatang-binatang ternakmu dapat berkembang biak? Tidak ada
sesuatu pun yang dapat mendatangkan air itu kecuali Allah Yang Maha Pemurah dan
Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Kenapa kamu masih menyekutukan-Nya dengan
sesuatu yang tidak layak bagi-Nya?"
Ayat ini menyuruh orang-orang kafir
membandingkan dasar ketuhanan menurut pengertian mereka dengan sifat pemahaman
ketuhanan menurut agama yang disampaikan Muhammad saw. Tuhan yang disembah
menurut yang diajarkan Rasulullah adalah Tuhan pencipta seluruh makhluk, dan
menjaga kelangsungan hidup semua yang hidup di alam ini. Dia Mahakuasa dan Maha
Menentukan segala sesuatu, tidak memerlukan sesuatu apa pun untuk menolong-Nya
dan sebagainya. Bukan Tuhan yang dibuat manusia atau diangkat oleh manusia
sendiri untuk disembah, seperti pemahaman ketuhanan orang-orang musyrik. Ayat
ini seakan mengingatkan mereka bahwa Tuhan yang pantas disembah itu hanyalah Tuhan
Yang Maha Esa, tidak beranak, tidak dilahirkan, tidak berserikat dengan suatu
apa pun, dan tidak memerlukan makhluk-makhluk lain untuk membantu-Nya
melaksanakan setiap urusan.
KEGIATAN PESERTA DIDIK QUR'AN CAMP SMPIT ISLAMICITY GUNUNG SALAK FILLA PINK BOGOR


